Sopian Muhammad
Setiap orang harus memiliki kepercayaan diri alias pede. Bahkan begitu pentingnya kepercayaan diri, ungkapan pede sangat populer mewarnai gejala sosial budaya termasuk di tengah pergaulan remaja muslimnya.
Pede berkenaan dengan keberanian untuk bersikap, tampil, memotivasi diri, menunjukan pribadi yang menarik dan sejenisnya. Namun permasalahannya adalah ketika makna pede tidak dilandasi atau dijiwai oleh nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi. Terutama nilai-nilai agama (Islam).
Munculnya berbagai kekeliruan dalam menempatkan makna pede tidak terlepas dari lemahnya penghayatan dan pengamalan terhadap nilai-nilai tadi. Sedangkan orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, senantiasa menempatkan makna pede yang dijiwai dengan ajaran agama tersebut. Hal ini tercermin dari sikap dan perilakunya.
Kekeliruan menempatkan makna pede
Kekeliruan memaknai pede terjadi apabila ke-pede-an hanya diukur berdasarkan segi fisik atau materi semata. Misalnya merasa pede hanya lantaran tampang yang kece atau keren, pede karena bisa menampilkan keseksian tubuh, memamerkan harta kekayaan, atau merasa pede apabila dapat mengikuti berbagai tren (trend) atau gaya hidup (life style) tertentu dalam pergaulan. Tidak peduli apakah tren tersebut sesuai dengan nilai-nilai agama kita atau tidak.
apabila dicermati, banyaknya remaja yang keliru dalam menempatkan pengertian pede tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor psikologis. Para psikolog berpendapat, remaja berkecenderungan untuk meniru atau melakukan sesuatu yang baru walaupun bertentangan dengan tuntunan agama. Repotnya setelah mencoba-coba atau meniru-niru hal yang negatif itu seringkali berlanjut menjadi kebiasaan. Akibatnya timbullah berbagai masalah sosial.
Selain faktor psikologis, juga karena faktor budaya atau sosial pergaulan. Sebab seseorang bisa merasa pede apabila sikap atau perilakunya sudah sesuai dengan lingkungan pergaulan. Misalnya lingkungan pergaulan dengan gaya hidup modern. Padahal bisa jadi cara hidup semacam itu sarat dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam yang kita yakini. Karena itulah pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Islam harus senantiasa ditumbuhkembangkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Dibalik Kekeliruan Menempatkan Makna Pede
Kalau dikaji secara mendalam, dibalik pede-nya tren pergaulan atau gaya hidup remaja kita yang sudah banyak menyimpang dari nilai-nilai Islam itu, sebenarnya tidak terlepas dari upaya Barat. Dengan kekuatan ekonomi dan politik yang didukung oleh pengaruh film dan penguasaan teknologi informasi terutama media massanya, Barat dengan pengaruh globalisasinya berusaha menciptakan agar umat manusia terutama generasi muda muslimnya menjauhi ajaran agamanya.
Sejauh ini Barat memang telah berhasil. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya para remaja muslim yang terpengaruh dan meniru sikap dan perilaku yang sarat dengan nilai-nilai Barat seperti tercermin dari berbagai tren yang menggejala. Baik tren dalam hal cara berpakaian (fashion), bersenang-senang (fun), sampai dalam soal memilih minum-makanan (food). Atau yang populer dengan “3 f” itu.
Disadari atau tidak, tren pergaulan atau gaya hidup yang sering dikemas dengan sebutan modern itu berhasil membuat muda-mudi muslimnya terpedaya. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang malah merasa sangat pede dengan tren pergaulan-gaya hidup seperti itu.
Pertanyaannya, kenapa Barat berbuat demikian terhadap generasi muda muslimnya ?
Kalau dilihat dari sejarah peradaban manusia hingga kini, antara Islam dan Barat sesungguhnya tidak pernah benar-benar akur. Penyebabnya karena tidak ada kesesuaian antara nilai-nilai yang dianut Barat dengan nilai-nilai hidup Islam. Dengan kata lain, seperti diungkapkan Maryam Jameela – seorang Yahudi Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Margaret Marcus – perselisihan ini terjadi karena terdapat perbedaan yang sangat fundamental antara Barat dengan Islam (Husaini : 1999). Tegasnya seperti dikatakan Allah dalam Al Qur’an :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani, tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (Al Baqarah : 120)
Dalam konteks pembahasan ini, remaja muslim yang sikap hidupnya cenderung menganut nilai-nilai Barat, sesungguhnya merupakan “korban” dari pertentangan yang terjadi antara Barat dengan Islam. Mereka adalah generasi muda yang tertipu. Sebab nilai-nilai Barat yang dikemas dalam modernisasi sebenarnya adalah perangkap yang sengaja dihembuskan agar cara hidup generasi muda kita semakin jauh dari ajaran Islam.
Adapun kunci utama dari keberhasilan Barat untuk “menipu” orang-orang Islam, yaitu dengan “menciptakan dunia ini seindah mungkin”.
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman...”(QS.Al Baqarah : 212)
“Kalian telah terlena oleh melimpahnya kesenangan, sehingga tiba lah saatnya kalian di tepi jurang.” (At Takatsur : 1-2)
“Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Al Hadid:20)
“Kehidupan ini hanyalah tipu daya dan permainan.” (Al An’am : 32)
“Disitulah diuji orang-orang yang beriman, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al Ahzab : 11)
Barat menyadari, untuk menghancurkan generasi muslim mereka harus menyerang secara total dan menyeluruh, mencakup sisi aqidah, syariah, akhlak, adat istiadat, serta melalui tradisi yang disusupkan dengan berbagai cara. Singkatnya skenario penghancuran terhadap Islam haruslah bersifat menyeluruh atau mencakup semua aspek kehidupan. Umat Islam termasuk remajanya harus dibuat ragu terhadap agamanya, dan diupayakan agar sedikit demi sedikit mereka meninggalkan ajaran Islam dalam hidupnya.
Bagi kita cara hidup yang menganut nilai-nilai di luar Islam adalah kebodohan (jahiliyah), bukan kepandaian. Menurut Muhammad Al Ghazali, fungsi terpenting dari kepandaian adalah untuk melihat dan memahami kebenaran yang ada di dalam pribadi, dunia, dan Allah.(Othman : 1981 : 37)
Mengingat begitu dahsyat dan gencarnya upaya untuk melemahkan dan menghancurkan umat Islam, maka sebagai generasi penerus, kita harus senantiasa menjaga kesadaran sebagai muslim. Baik kesadaran individu maupun kesadaran kesadaran kolektif.
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Juli 2008
Generasi (Muda) Muslim di Tengah Konflik Peradaban
Sopian Muhammad
Memang bukan sebuah isu baru jika dunia ini dikatakan tengah mengalami apa yang disebut sebagai konflik peradaban (clash of civilizations). Yaitu konflik antara peradaban Barat dengan peradaban Islam. Sebab dalam sejarahnya, sejak dulu hingga kini, benturan antara Barat dengan dunia Islam selalu terjadi. Karena itu persoalan ini sejatinya senantiasa menjadi perhatian kita sebagai umat Islam untuk tetap menyadarinya. Sebab salah seorang tokoh Yahudi berbangsa Amerika sendiri yaitu Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order menyebutkan, konflik antara Barat dan Islam inilah yang merupakan konflik yang sebenarnya (dan akan selalu terjadi). Sedangkan yang dimaksud dengan istilah “Barat” tiada lain adalah “Western Christendom” (dunia Kristen Barat), yaitu suatu bagian dunia yang peradabannya dibangun terutama oleh nilai-nilai agama Kristen Barat.
Mengenai hal ini sebenarnya Allah Swt terlebih dahulu telah mengisyaratkan kepada kita umat Islam sebagaimana dalam firman-Nya :
“Tidaklah orang-orang Yahudi dan Kristen rela kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.”
Penyebab terjadinya benturan peradaban ini dikarenakan tidak adanya “kesesuaian” antara nilai-nilai yang dianut Barat dengan nilai-nilai Islam. Peradaban Barat dilandasi sekularime (faham yang mengenyampingkan keimanan dalam berbagai aspek kehidupan tertentu), sedangkan peradaban Islam dilandasi keimanan (yang ruang lingkupnya menyentuh segala aspek kehidupan). Singkatnya, seperti diungkapkan Maryam Jameela – seorang Yahudi Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Margaret Marcus – konflik ini muncul disebabkan adanya perbedaan yang sangat mendasar (fundamental) antara Barat dengan Islam (A. Husaini, 1999 :17).
Menurut Huntington, Barat (terutama dipelopori Amerika –pen) selalu berusaha “memaksakan” umat manusia (terutama umat Islam) di seluruh dunia untuk “menerima” dan “mengakui” nilai-nilai yang berlaku di Barat sebagai norma yang bersifat universal (E. Sudjana, 2002 : 28). Hal ini didukung dengan kekuatan politik, ekonomi, media informasi (media massa) serta ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan militer yang hingga saat ini memang lebih dikuasai mereka.
Mengingat pembahasan mengenai terjadinya konflik antara Barat dan Islam begitu luas, maka penulis perlu membatasinya. Yaitu dengan menyoroti menglobalnya berbagai pemikiran atau nilai-nilai budaya Barat terhadap sikap atau perilaku generasi muda muslim kita saat ini.
Serbuan Pemikiran dan Perekayasaan Opini Publik
Barat menyadari, untuk mengalahkan umat Islam, mereka harus menyerang secara total dan menyeluruh, mencakup sisi aqidah, syariah, akhlak, serta melalui tradisi yang disusupkan dengan berbagai cara. Singkatnya, program penghancuran generasi muda Islam haruslah bersifat komprehensif atau mencakup semua aspek kehidupan. Generasi muda Islam harus dibuat ragu terhadap ajaran agamanya, dan diupayakan agar (walau sedikit demi sedikit) mereka meninggalkan nilai-nilai Islam dalam hidupnya.
Menggembar-gemborkan cara berpikir sekular (sekularisme) adalah salah satunya. Anehnya, faham ini tumbuh subur dikalangan umat Islam dewasa ini tidak terkecuali dikalangan muda-mudi muslimnya. Padahal, sekularisme merupakan “alat politik” Barat untuk memakmurkan nilai-nilai mereka di kalangan umat Islam.
Bentuk lain dari serbuan pemikiran yaitu dengan perekayasaan opini publik guna menyesatkan umat Islam. Misalnya dengan mengidentikkan konsistensi perjuangan Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar sebagai perbuatan teror, melanggar hak asasi manusia (Ham), atau tuduhan lain yang mendeskreditkan. Sedangkan serbuan pemikiran yang berhubungan langsung dengan gaya hidup generasi mudanya adalah menciptakan kesan bahwa gaul-nya kaum muda modern – tidak terkecuali muda-mudi muslimnya - adalah mereka yang sikap atau perilakunya mengikuti nilai-nilai Barat. Disadari atau tidak, kenyataannya memang begitu banyak kaum muda muslim kita yang gaya hidupnya sarat dengan budaya Barat. Kebarat-baratan.
Adapun kesuksesan dari perekayasaan opini publik yang menyesatkan tadi sehingga generasi muda muslimnya terpengaruh, terutama karena kuatnya dukungan agenda setting media massa Barat dan media massa lain yang tidak sejalan dengan Islam. Apalagi media massa Barat disokong dana yang sangat besar sehingga jangkauannya mampu menembus dan merambah hingga ke seluruh dunia.
Mengenai adanya anggapan bahwa gaul-nya muda-mudi modern adalah peniruan terhadap nilai-nilai budaya Barat, paling tidak dapat kita cermati dalam hal tiga “f” yang menurut futuris John Naisbit merupakan ancaman globalisasi. Tiga “f” dimaksud adalah fashion, fun, dan food.
Dalam hal berpakaian (fashion), Barat telah berhasil menghujamkan pandangan dalam generasi muda muslim kita, bahwa model pakaian yang cenderung mengeksploitasi aurat (ketat, mini, transparan) adalah jenis pakaian yang trendi dan modern. Selain itu Barat pun mampu membudayakan berbagai gaya hidup yang menyimpang dari nilai-nilai Islam sebagai pilihan dalam bersenang-senang (fun). Bahkan, dalam soal minuman atau makanannya (food) pun - yang berasal dari Barat - tidak sedikit muda-mudi muslim kita yang menjadikannya sebagai suatu bagian dari tren sosial pergaulan atau simbolisasi dari generasi muda modern tanpa mengindahkan kehalalan atau keharamannya. Padahal mengenai fenomena peniruan dari semua itu Rasulullah telah bersabda :
“Barang siapa yang meniru suatu golongan, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.”
Contoh sederhana di atas memang merupakan hasil dari proses peniruan (imitasi) terhadap nilai-nilai atau budaya Barat. Adapun budaya atau culture menurut Mac Iver adalah ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam pergaulan, sikap atau perilaku seseorang (Suparno, 1987 : 164).
Dalam wacana kebudayaan, penyebaran kebudayaan (difusi) sangat mempengaruhi terjadinya peniruan ini (budaya Barat). Sedangkan akibatnya terjadilah pergeseran sosial budaya (culture social change) yang dapat mengancam nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat terutama di kalangan generasi muda muslimnya.
Karena difusi ini sudah tidak bisa dihindari, maka sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai muslim untuk berhati-hati serta tidak terpengaruh ataupun terjebak dalam pola pikir, sikap, dan perilaku yang mengarah kepada nilai-nilai budaya Barat (yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam). Sedangkan terkait dengan pokok bahasan ini, maka generasi muda muslim yang pola pikir, sikap atau perilakunya yang cenderung menganut nilai-nilai “Barat”, dapatlah dikatakan sebagai “korban” dari konflik yang terjadi antara Barat dengan Islam. Mereka adalah generasi yang “tergoda” atau “terlena” oleh nilai-nilai budaya Barat. Padahal Leopold Weiss yang setelah memeluk Islam bernama Muhammad Asad mengatakan :
Hanya manusia-manusia yang sangat dangkal pandangannya dapat percaya bahwa kita mungkin meniru suatu kebudayaan (peradaban) tanpa dipengaruhi jiwa peradaban itu. Peradaban bukanlah suatu bentuk kosong, tetapi suatu energi yang hidup. Pada saat kita sudah mulai menerima bentuk kebudayaan lahir (peradaban) itu, arus-arus yang terpadu padanya dan pengaruh-pengaruh dinamikanya mulai bekerja di dalam diri kita. Dengan perlahan-lahan dan tidak tampak, (kebudayaan) itu membentuk seluruh sikap mental kita. Dengan penilaian yang sempurna atas pengalaman-pengalaman seperti itu, Nabi Saw pun bersabda, “siapa saja yang meniru suatu kaum, ia telah menjadi satu bagian dengan mereka (kaum itu).” (Z.Asharfillah, 2003 : 44)
Kunci utama dari keberhasilan Barat untuk “memperdayai” umat Islam - terutama generasi mudanya – sesungguhnya adalah dengan menciptakan kehidupan dunia seindah mungkin, dengan segala pesona dan kehingar bingarannya.
Allah berfirman :
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman...”(QS.Al Baqarah : 212)
Film dan Media Massa
“Indahnya dunia” dengan segala “kesenangannya” terbukti telah membuat banyak muda-mudi muslim kita tergoda, tergiur, bahkan terlena. Sedangkan gambaran “indahnya dunia” (versi Barat), dapat kita lihat dari cerita dalam film-film terutama film tentang dunia muda-mudi yang sengaja mereka ekspose sebagai bagian dari misi perfilman Barat yang “dikomandani” Hollywood untuk memakmurkan budaya mereka keseluruh dunia.
Dari film-film itulah, diharapkan generasi muda muslimnya terpengaruh “indahnya dunia” (mereka) dari mulai pergaulan bebasnya, gaya hidup yang serba “wah”, sampai kehingar-bingaran hidup lainnya. Sekedar contoh, film-film, khususnya yang (pernah) ditayangkan televisi, yang memiliki tendensi kearah itu : “Beverly Hills 90210”,
Dawson’s Creek”, “Models Inc”, “Baywatch” serta masih banyak judul film lainnya.
“Beverly Hills 90210” yang pernah sukses di RCTI misalnya, menggambarkan “keindahan” pergaulan bebas dan lakon cinta anak-anak mahasiswa dan muda-mudinya. Film Amerika ini sukses dengan dua kali tayang, karena (ternyata) memang banyak digandrungi generasi muda kita. Selain sarat dengan kisah percintaan, “BH 90210” juga kental dengan gaya hidup bebas lain yang bisa membuat kaum muda mudah terpengaruh, mengingat kondisi psikologis mereka yang masih “rentan”.
“Dawson’s Creek” juga menceritakan tentang indahnya romantika muda-mudi dengan kisah kasih yang mempesona sehingga acara inipun banyak diminati kalangan muda. Tidak mengherankan apabila TPI sendiri menganggap acara ini sebagai film yang diunggulkan karena banyak digemari mereka.
“Models Inc” yang (pernah) ditayangkan SCTV, merupakan contoh lain dari film Barat yang turut memakmurkan “keindahan” pakaian yang mengeksploitasi aurat sebagai trend. Sedangkan muatan lain dari film ini pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan “BH 90210” ataupun “Dawson,s Creek”. Yaitu menggambarkan indahnya dunia muda-mudi modern dengan segala gaya hidupnya. Kabarnya, film ini pun cukup mendapat sambutan.
“Baywatch,” yang juga dulu sukses dan beberapa kali diputar di RCTI, adalah satu dari sekian banyak film Amerika di televisi yang seolah sengaja mengikis pandangan, bahwa aurat adalah hal yang sakral dan tabu dipertontonkan. Melainkan sesuatu yang “indah” untuk disaksikan.
Selain film-film yang disebutkan di atas, tentu masih sangat banyak film-film Barat lain yang pada dasarnya mengemban satu misi : globalisasikan nilai-nilai atau sikap hidup Barat ke seluruh dunia.
Menurut seorang pengamat dan pakar perfilman, film memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mempengaruhi seseorang. Karena kuatnya daya pengaruh film, maka para muda-mudi yang merasa senang bahkan menggandrungi film-film tadi, (kemungkinan) akan terpesona dan tergiur dengan segala kehidupan mereka (para pemainnya) yang dianggap serba “menyenangkan’ dan “wah” itu. Apalagi secara psikologis, para muda-mudi memang lebih mudah untuk terpengaruh dan meniru-niru. Mulai dari meniru cara berpakaian para pemain idolanya, sampai gaya hidup dan pergaulan bebasnya.
Adapun berbagai kasus terjadinya peniruan dari film-film sudah banyak dibuktikan. Salah satunya seperti hasil penelitian yang dilakukan Evry, Lewis, dan Flik. ” (Gerungan, 1996 : 197).
Kemudian, semakin gandrungnya muda-mudi muslim yang memakai pakaian dengan aurat lebih terbuka (mengikuti mode tertentu), cara hidup yang konsumtif dan hura-hura, terjadinya budaya kekerasan, serta gaya hidup lain yang cenderung tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, juga tidak sedikit yang dipengaruhi film/televisi tadi. Singkat kata, Barat telah berhasil mempengaruhi generasi muda muslim untuk mengikuti nilai-nilai mereka dengan film-film atau tayangan (acara) televisi lain yang diproduksinya. Ironinya, film, sinetron, atau acara televisi yang diproduksi dalam negeri pun, ternyata juga sudah banyak yang jauh mengikuti nilai-nilai Barat.
Ancaman budaya atau nilai-nilai Barat memang tidak hanya dari tayangan-tayangan film atau televisi termasuk situs-situs porno di internet. Media cetak pun seperti koran, tabloid, majalah banyak yang turut memakmurkan nilai-nilai Barat dengan menjual gambar-gambar perempuan bugil sebagai penyedap berita. Naudzubillah !
Berbagai Tempat Hiburan
Hingar bingarnya tempat-tempat hiburan seperti diskotek dengan house music-nya, bar dengan minuman kerasnya, pub dengan para gadisnya, kafe dengan live music plus narkobanya, tempat-tempat hiburan lain dengan perjudiannya, dengan free sex atau sex party-nya, merupakan berbagai “kesenangan dunia” yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tempat-tempat hiburan tentulah tidak sebatas itu. Tempat digelarnya konser musik, baik musisi-grup band dunia maupun musisi-grup band lokal, juga merupakan tempat hiburan yang banyak digandrungi muda-mudi muslim kita. Hal ini terbukti dengan ramainya para pengunjung setiap kali konser tersebut diadakan, meskipun tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Padahal konser semacam itu sarat dengan hiruk pikuk atau perilaku sosial yang cenderung tidak islami bahkan - kalau mau direnungkan sedikit saja - memang sudah kebarat-baratan.
Tidak sedikit pula hiburan dari ajang tertentu yang banyak diminati oleh sebagian muda-mudi muslimnya. Seperti berbagai pestival atau kontes yang meskipun terkesan “keindonesiaan”, tetapi sesungguhnya sarat dengan nilai-nilai Barat. Sebagai contoh ; kontes kecantikan tertentu, berbusana serasi tertentu ataupun sejenisnya yang cenderung mengeksploitasi aurat. Bahkan dalam hal auratisme ini, hampir segala bentuk ajang, para pesertanya memang seringkali mengenakan pakaian yang relatif “terbuka”. Tidak terkecuali seperti yang terjadi di ; “Indonesian Idol” - RCTI, “Akademi Fantasi Indosiar” - AFI, “Kontes Dangdut TPI” atau yang lainnya. Begitupun dengan ramainya muda-mudi muslim yang antusias mengikuti kontes pemilihan cover boys atau cover girls untuk majalah yang posisioningnya hiburan atau gaya hidup metropolitan maupun sejenisnya. Mereka semua berharap, suatu saat nanti bisa menjadi artis, beken, dan kaya walaupun harus berpose telanjang dada bahkan paha. Suatu cara pandang materialis-hedonis. Cara pandang layaknya pengikut “nabi” Auguste Comte. Sebab Comte dengan positivisme-nya “mengajarkan”, bahwa manusia yang paling tinggi perkembangannya adalah mereka yang sikap dan perilakunya berorientasi pada materi.
“Disitulah diuji orang-orang yang beriman, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al Ahzab : 11)
Padahal :
“Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa.” (Al Hujurat : 13)
Begitulah cara Barat “menjadikan dunia ini indah” dengan segala “kesenangannya”, sehingga generasi muda muslim kita yang jadi “korbannya” berangsur-angsur menjauhi agamanya. Apabila sudah demikian, maka mereka akan enggan untuk menghadiri pengajian atau acara keislaman lainnya. Sebab, mereka akhirnya merasa aneh untuk menghadirinya, atau merasa asing dengan kegiatan semacam itu.
Menata Shaf Generasi Muda Muslim
Mengingat begitu dahsyat dan gencarnya upaya Barat untuk terus melemahkan dan menghancurkan umat Islam, maka sebagai generasi penerus, kita harus senantiasa menjaga kesadaran sebagai seorang muslim.
Berikut ini tiga tahap kesadaran yang diharapkan dapat membuat muda-mudi atau generasi muda muslim bangkit :
Kesadaran pribadi
Sebagai seorang muslim, kita harus mengambil peran, minimal membentengi diri dengan berpegang teguh pada dienul Islam, dari ancaman pengaruh nilai-nilai Barat yang semakin merebak.
Kesadaran kolektif
Dari kesadaran individu, diharapkan muncul kesadaran bersama untuk mengupayakan terhindarnya generasi muda muslim dari pengaruh nilai-nilai Barat.
Kesadaran organisasi
Sebuah organisasi, sangat penting untuk mewujudkan kesadaran individu dan kesadaran kolektif dalam bentuk langkah nyata guna melakukan “perubahan”. Perubahan yang dimaksud, yaitu sebisa mungkin melakukan action dalam berbagai upaya untuk menggalang solidaritas demi menyelamatkan generasi mudanya dari pengaruh Barat. Termasuk memberikan penyadaran bahwa nilai-nilai budaya Barat adalah racun yang mematikan bagi nilai-nilai Islam.
Kesadaran Seluruh Umat
Ancaman terhadap akhlak generasi muda muslim kita pada hakekatnya adalah ancaman terhadap seluruh umat Islam. Oleh karena itu, kita sebagai sasama umat Islam - tanpa terkecuali apapun status sosial dan profesinya - harus menyadari bahkan memiliki kepedulian untuk meng-counter nilai-nilai budaya Barat. Yaitu nilai-nilai budaya yang dapat merusak nilai-nilai Islam dalam setiap sikap dan perilaku kita sebagai seorang muslim. Bukan malah turut menumbuh suburkannya.
Memang bukan sebuah isu baru jika dunia ini dikatakan tengah mengalami apa yang disebut sebagai konflik peradaban (clash of civilizations). Yaitu konflik antara peradaban Barat dengan peradaban Islam. Sebab dalam sejarahnya, sejak dulu hingga kini, benturan antara Barat dengan dunia Islam selalu terjadi. Karena itu persoalan ini sejatinya senantiasa menjadi perhatian kita sebagai umat Islam untuk tetap menyadarinya. Sebab salah seorang tokoh Yahudi berbangsa Amerika sendiri yaitu Samuel P. Huntington dalam bukunya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order menyebutkan, konflik antara Barat dan Islam inilah yang merupakan konflik yang sebenarnya (dan akan selalu terjadi). Sedangkan yang dimaksud dengan istilah “Barat” tiada lain adalah “Western Christendom” (dunia Kristen Barat), yaitu suatu bagian dunia yang peradabannya dibangun terutama oleh nilai-nilai agama Kristen Barat.
Mengenai hal ini sebenarnya Allah Swt terlebih dahulu telah mengisyaratkan kepada kita umat Islam sebagaimana dalam firman-Nya :
“Tidaklah orang-orang Yahudi dan Kristen rela kepadamu sampai engkau mengikuti agama mereka.”
Penyebab terjadinya benturan peradaban ini dikarenakan tidak adanya “kesesuaian” antara nilai-nilai yang dianut Barat dengan nilai-nilai Islam. Peradaban Barat dilandasi sekularime (faham yang mengenyampingkan keimanan dalam berbagai aspek kehidupan tertentu), sedangkan peradaban Islam dilandasi keimanan (yang ruang lingkupnya menyentuh segala aspek kehidupan). Singkatnya, seperti diungkapkan Maryam Jameela – seorang Yahudi Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Margaret Marcus – konflik ini muncul disebabkan adanya perbedaan yang sangat mendasar (fundamental) antara Barat dengan Islam (A. Husaini, 1999 :17).
Menurut Huntington, Barat (terutama dipelopori Amerika –pen) selalu berusaha “memaksakan” umat manusia (terutama umat Islam) di seluruh dunia untuk “menerima” dan “mengakui” nilai-nilai yang berlaku di Barat sebagai norma yang bersifat universal (E. Sudjana, 2002 : 28). Hal ini didukung dengan kekuatan politik, ekonomi, media informasi (media massa) serta ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan militer yang hingga saat ini memang lebih dikuasai mereka.
Mengingat pembahasan mengenai terjadinya konflik antara Barat dan Islam begitu luas, maka penulis perlu membatasinya. Yaitu dengan menyoroti menglobalnya berbagai pemikiran atau nilai-nilai budaya Barat terhadap sikap atau perilaku generasi muda muslim kita saat ini.
Serbuan Pemikiran dan Perekayasaan Opini Publik
Barat menyadari, untuk mengalahkan umat Islam, mereka harus menyerang secara total dan menyeluruh, mencakup sisi aqidah, syariah, akhlak, serta melalui tradisi yang disusupkan dengan berbagai cara. Singkatnya, program penghancuran generasi muda Islam haruslah bersifat komprehensif atau mencakup semua aspek kehidupan. Generasi muda Islam harus dibuat ragu terhadap ajaran agamanya, dan diupayakan agar (walau sedikit demi sedikit) mereka meninggalkan nilai-nilai Islam dalam hidupnya.
Menggembar-gemborkan cara berpikir sekular (sekularisme) adalah salah satunya. Anehnya, faham ini tumbuh subur dikalangan umat Islam dewasa ini tidak terkecuali dikalangan muda-mudi muslimnya. Padahal, sekularisme merupakan “alat politik” Barat untuk memakmurkan nilai-nilai mereka di kalangan umat Islam.
Bentuk lain dari serbuan pemikiran yaitu dengan perekayasaan opini publik guna menyesatkan umat Islam. Misalnya dengan mengidentikkan konsistensi perjuangan Islam dalam amar ma’ruf nahi munkar sebagai perbuatan teror, melanggar hak asasi manusia (Ham), atau tuduhan lain yang mendeskreditkan. Sedangkan serbuan pemikiran yang berhubungan langsung dengan gaya hidup generasi mudanya adalah menciptakan kesan bahwa gaul-nya kaum muda modern – tidak terkecuali muda-mudi muslimnya - adalah mereka yang sikap atau perilakunya mengikuti nilai-nilai Barat. Disadari atau tidak, kenyataannya memang begitu banyak kaum muda muslim kita yang gaya hidupnya sarat dengan budaya Barat. Kebarat-baratan.
Adapun kesuksesan dari perekayasaan opini publik yang menyesatkan tadi sehingga generasi muda muslimnya terpengaruh, terutama karena kuatnya dukungan agenda setting media massa Barat dan media massa lain yang tidak sejalan dengan Islam. Apalagi media massa Barat disokong dana yang sangat besar sehingga jangkauannya mampu menembus dan merambah hingga ke seluruh dunia.
Mengenai adanya anggapan bahwa gaul-nya muda-mudi modern adalah peniruan terhadap nilai-nilai budaya Barat, paling tidak dapat kita cermati dalam hal tiga “f” yang menurut futuris John Naisbit merupakan ancaman globalisasi. Tiga “f” dimaksud adalah fashion, fun, dan food.
Dalam hal berpakaian (fashion), Barat telah berhasil menghujamkan pandangan dalam generasi muda muslim kita, bahwa model pakaian yang cenderung mengeksploitasi aurat (ketat, mini, transparan) adalah jenis pakaian yang trendi dan modern. Selain itu Barat pun mampu membudayakan berbagai gaya hidup yang menyimpang dari nilai-nilai Islam sebagai pilihan dalam bersenang-senang (fun). Bahkan, dalam soal minuman atau makanannya (food) pun - yang berasal dari Barat - tidak sedikit muda-mudi muslim kita yang menjadikannya sebagai suatu bagian dari tren sosial pergaulan atau simbolisasi dari generasi muda modern tanpa mengindahkan kehalalan atau keharamannya. Padahal mengenai fenomena peniruan dari semua itu Rasulullah telah bersabda :
“Barang siapa yang meniru suatu golongan, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.”
Contoh sederhana di atas memang merupakan hasil dari proses peniruan (imitasi) terhadap nilai-nilai atau budaya Barat. Adapun budaya atau culture menurut Mac Iver adalah ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam pergaulan, sikap atau perilaku seseorang (Suparno, 1987 : 164).
Dalam wacana kebudayaan, penyebaran kebudayaan (difusi) sangat mempengaruhi terjadinya peniruan ini (budaya Barat). Sedangkan akibatnya terjadilah pergeseran sosial budaya (culture social change) yang dapat mengancam nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat terutama di kalangan generasi muda muslimnya.
Karena difusi ini sudah tidak bisa dihindari, maka sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai muslim untuk berhati-hati serta tidak terpengaruh ataupun terjebak dalam pola pikir, sikap, dan perilaku yang mengarah kepada nilai-nilai budaya Barat (yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam). Sedangkan terkait dengan pokok bahasan ini, maka generasi muda muslim yang pola pikir, sikap atau perilakunya yang cenderung menganut nilai-nilai “Barat”, dapatlah dikatakan sebagai “korban” dari konflik yang terjadi antara Barat dengan Islam. Mereka adalah generasi yang “tergoda” atau “terlena” oleh nilai-nilai budaya Barat. Padahal Leopold Weiss yang setelah memeluk Islam bernama Muhammad Asad mengatakan :
Hanya manusia-manusia yang sangat dangkal pandangannya dapat percaya bahwa kita mungkin meniru suatu kebudayaan (peradaban) tanpa dipengaruhi jiwa peradaban itu. Peradaban bukanlah suatu bentuk kosong, tetapi suatu energi yang hidup. Pada saat kita sudah mulai menerima bentuk kebudayaan lahir (peradaban) itu, arus-arus yang terpadu padanya dan pengaruh-pengaruh dinamikanya mulai bekerja di dalam diri kita. Dengan perlahan-lahan dan tidak tampak, (kebudayaan) itu membentuk seluruh sikap mental kita. Dengan penilaian yang sempurna atas pengalaman-pengalaman seperti itu, Nabi Saw pun bersabda, “siapa saja yang meniru suatu kaum, ia telah menjadi satu bagian dengan mereka (kaum itu).” (Z.Asharfillah, 2003 : 44)
Kunci utama dari keberhasilan Barat untuk “memperdayai” umat Islam - terutama generasi mudanya – sesungguhnya adalah dengan menciptakan kehidupan dunia seindah mungkin, dengan segala pesona dan kehingar bingarannya.
Allah berfirman :
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman...”(QS.Al Baqarah : 212)
Film dan Media Massa
“Indahnya dunia” dengan segala “kesenangannya” terbukti telah membuat banyak muda-mudi muslim kita tergoda, tergiur, bahkan terlena. Sedangkan gambaran “indahnya dunia” (versi Barat), dapat kita lihat dari cerita dalam film-film terutama film tentang dunia muda-mudi yang sengaja mereka ekspose sebagai bagian dari misi perfilman Barat yang “dikomandani” Hollywood untuk memakmurkan budaya mereka keseluruh dunia.
Dari film-film itulah, diharapkan generasi muda muslimnya terpengaruh “indahnya dunia” (mereka) dari mulai pergaulan bebasnya, gaya hidup yang serba “wah”, sampai kehingar-bingaran hidup lainnya. Sekedar contoh, film-film, khususnya yang (pernah) ditayangkan televisi, yang memiliki tendensi kearah itu : “Beverly Hills 90210”,
Dawson’s Creek”, “Models Inc”, “Baywatch” serta masih banyak judul film lainnya.
“Beverly Hills 90210” yang pernah sukses di RCTI misalnya, menggambarkan “keindahan” pergaulan bebas dan lakon cinta anak-anak mahasiswa dan muda-mudinya. Film Amerika ini sukses dengan dua kali tayang, karena (ternyata) memang banyak digandrungi generasi muda kita. Selain sarat dengan kisah percintaan, “BH 90210” juga kental dengan gaya hidup bebas lain yang bisa membuat kaum muda mudah terpengaruh, mengingat kondisi psikologis mereka yang masih “rentan”.
“Dawson’s Creek” juga menceritakan tentang indahnya romantika muda-mudi dengan kisah kasih yang mempesona sehingga acara inipun banyak diminati kalangan muda. Tidak mengherankan apabila TPI sendiri menganggap acara ini sebagai film yang diunggulkan karena banyak digemari mereka.
“Models Inc” yang (pernah) ditayangkan SCTV, merupakan contoh lain dari film Barat yang turut memakmurkan “keindahan” pakaian yang mengeksploitasi aurat sebagai trend. Sedangkan muatan lain dari film ini pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan “BH 90210” ataupun “Dawson,s Creek”. Yaitu menggambarkan indahnya dunia muda-mudi modern dengan segala gaya hidupnya. Kabarnya, film ini pun cukup mendapat sambutan.
“Baywatch,” yang juga dulu sukses dan beberapa kali diputar di RCTI, adalah satu dari sekian banyak film Amerika di televisi yang seolah sengaja mengikis pandangan, bahwa aurat adalah hal yang sakral dan tabu dipertontonkan. Melainkan sesuatu yang “indah” untuk disaksikan.
Selain film-film yang disebutkan di atas, tentu masih sangat banyak film-film Barat lain yang pada dasarnya mengemban satu misi : globalisasikan nilai-nilai atau sikap hidup Barat ke seluruh dunia.
Menurut seorang pengamat dan pakar perfilman, film memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mempengaruhi seseorang. Karena kuatnya daya pengaruh film, maka para muda-mudi yang merasa senang bahkan menggandrungi film-film tadi, (kemungkinan) akan terpesona dan tergiur dengan segala kehidupan mereka (para pemainnya) yang dianggap serba “menyenangkan’ dan “wah” itu. Apalagi secara psikologis, para muda-mudi memang lebih mudah untuk terpengaruh dan meniru-niru. Mulai dari meniru cara berpakaian para pemain idolanya, sampai gaya hidup dan pergaulan bebasnya.
Adapun berbagai kasus terjadinya peniruan dari film-film sudah banyak dibuktikan. Salah satunya seperti hasil penelitian yang dilakukan Evry, Lewis, dan Flik. ” (Gerungan, 1996 : 197).
Kemudian, semakin gandrungnya muda-mudi muslim yang memakai pakaian dengan aurat lebih terbuka (mengikuti mode tertentu), cara hidup yang konsumtif dan hura-hura, terjadinya budaya kekerasan, serta gaya hidup lain yang cenderung tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, juga tidak sedikit yang dipengaruhi film/televisi tadi. Singkat kata, Barat telah berhasil mempengaruhi generasi muda muslim untuk mengikuti nilai-nilai mereka dengan film-film atau tayangan (acara) televisi lain yang diproduksinya. Ironinya, film, sinetron, atau acara televisi yang diproduksi dalam negeri pun, ternyata juga sudah banyak yang jauh mengikuti nilai-nilai Barat.
Ancaman budaya atau nilai-nilai Barat memang tidak hanya dari tayangan-tayangan film atau televisi termasuk situs-situs porno di internet. Media cetak pun seperti koran, tabloid, majalah banyak yang turut memakmurkan nilai-nilai Barat dengan menjual gambar-gambar perempuan bugil sebagai penyedap berita. Naudzubillah !
Berbagai Tempat Hiburan
Hingar bingarnya tempat-tempat hiburan seperti diskotek dengan house music-nya, bar dengan minuman kerasnya, pub dengan para gadisnya, kafe dengan live music plus narkobanya, tempat-tempat hiburan lain dengan perjudiannya, dengan free sex atau sex party-nya, merupakan berbagai “kesenangan dunia” yang sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tempat-tempat hiburan tentulah tidak sebatas itu. Tempat digelarnya konser musik, baik musisi-grup band dunia maupun musisi-grup band lokal, juga merupakan tempat hiburan yang banyak digandrungi muda-mudi muslim kita. Hal ini terbukti dengan ramainya para pengunjung setiap kali konser tersebut diadakan, meskipun tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan. Padahal konser semacam itu sarat dengan hiruk pikuk atau perilaku sosial yang cenderung tidak islami bahkan - kalau mau direnungkan sedikit saja - memang sudah kebarat-baratan.
Tidak sedikit pula hiburan dari ajang tertentu yang banyak diminati oleh sebagian muda-mudi muslimnya. Seperti berbagai pestival atau kontes yang meskipun terkesan “keindonesiaan”, tetapi sesungguhnya sarat dengan nilai-nilai Barat. Sebagai contoh ; kontes kecantikan tertentu, berbusana serasi tertentu ataupun sejenisnya yang cenderung mengeksploitasi aurat. Bahkan dalam hal auratisme ini, hampir segala bentuk ajang, para pesertanya memang seringkali mengenakan pakaian yang relatif “terbuka”. Tidak terkecuali seperti yang terjadi di ; “Indonesian Idol” - RCTI, “Akademi Fantasi Indosiar” - AFI, “Kontes Dangdut TPI” atau yang lainnya. Begitupun dengan ramainya muda-mudi muslim yang antusias mengikuti kontes pemilihan cover boys atau cover girls untuk majalah yang posisioningnya hiburan atau gaya hidup metropolitan maupun sejenisnya. Mereka semua berharap, suatu saat nanti bisa menjadi artis, beken, dan kaya walaupun harus berpose telanjang dada bahkan paha. Suatu cara pandang materialis-hedonis. Cara pandang layaknya pengikut “nabi” Auguste Comte. Sebab Comte dengan positivisme-nya “mengajarkan”, bahwa manusia yang paling tinggi perkembangannya adalah mereka yang sikap dan perilakunya berorientasi pada materi.
“Disitulah diuji orang-orang yang beriman, dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al Ahzab : 11)
Padahal :
“Orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa.” (Al Hujurat : 13)
Begitulah cara Barat “menjadikan dunia ini indah” dengan segala “kesenangannya”, sehingga generasi muda muslim kita yang jadi “korbannya” berangsur-angsur menjauhi agamanya. Apabila sudah demikian, maka mereka akan enggan untuk menghadiri pengajian atau acara keislaman lainnya. Sebab, mereka akhirnya merasa aneh untuk menghadirinya, atau merasa asing dengan kegiatan semacam itu.
Menata Shaf Generasi Muda Muslim
Mengingat begitu dahsyat dan gencarnya upaya Barat untuk terus melemahkan dan menghancurkan umat Islam, maka sebagai generasi penerus, kita harus senantiasa menjaga kesadaran sebagai seorang muslim.
Berikut ini tiga tahap kesadaran yang diharapkan dapat membuat muda-mudi atau generasi muda muslim bangkit :
Kesadaran pribadi
Sebagai seorang muslim, kita harus mengambil peran, minimal membentengi diri dengan berpegang teguh pada dienul Islam, dari ancaman pengaruh nilai-nilai Barat yang semakin merebak.
Kesadaran kolektif
Dari kesadaran individu, diharapkan muncul kesadaran bersama untuk mengupayakan terhindarnya generasi muda muslim dari pengaruh nilai-nilai Barat.
Kesadaran organisasi
Sebuah organisasi, sangat penting untuk mewujudkan kesadaran individu dan kesadaran kolektif dalam bentuk langkah nyata guna melakukan “perubahan”. Perubahan yang dimaksud, yaitu sebisa mungkin melakukan action dalam berbagai upaya untuk menggalang solidaritas demi menyelamatkan generasi mudanya dari pengaruh Barat. Termasuk memberikan penyadaran bahwa nilai-nilai budaya Barat adalah racun yang mematikan bagi nilai-nilai Islam.
Kesadaran Seluruh Umat
Ancaman terhadap akhlak generasi muda muslim kita pada hakekatnya adalah ancaman terhadap seluruh umat Islam. Oleh karena itu, kita sebagai sasama umat Islam - tanpa terkecuali apapun status sosial dan profesinya - harus menyadari bahkan memiliki kepedulian untuk meng-counter nilai-nilai budaya Barat. Yaitu nilai-nilai budaya yang dapat merusak nilai-nilai Islam dalam setiap sikap dan perilaku kita sebagai seorang muslim. Bukan malah turut menumbuh suburkannya.
Ada Apa dengan (Ungkapan) Bahasa Gaul?
Sopian Muhammad
“Gaul, dong!”
“Pede aja lagi!”
“Kasihan deh, Lu!”
“Nyantai aja, Coy!”
Begitulah antara lain ungkapan dari bahasa gaul yang seringkali digunakan di kalangan remaja kita. Memang, nggak salah kok, apabila para remajanya menggunakan ungkapan-ungkapan dari bahasanya gaul ini. Yang salah adalah, jika dalam memaknai ungkapan-ungkapan tersebut tidak lagi mengindahkan norma-norma yang berlaku (normlessness). Baik norma-norma etika maupun agama.
Gaul, dong!
Dalam kontes sosial pergaulan remaja, “gaul” bukanlah sekadar kata. Melainkan sudah menjadi istilah atau ungkapan yang ruang lingkupnya menyentuh berbagai perilaku atau gaya hidup. Sayangnya, istilah atau ungkapan itu cenderung mengandung makna yang bertentangan dengan norma-norma tadi. Contoh: berpacaran sambil bermesraan bahkan lengkap dengan ngeseks-nya disebut gaul, minum minuman keras (ngedrink) dianggap gaul, menggunakan obat terlarang (ngedrugs) disebut gaul, berjudi (ngegambling) atau yang lainnya juga dianggap “gaul”. Begitu pula dengan kebiasaan nongkrong, ngeceng, dan sejenisnya.
Kata “gaul” yang sudah menggejala bahkan membudaya itu, disadari atau tidak, memiliki makna psikologis yang relatif cukup kuat pengaruhnya dalam komunitas pergaulan remaja. Akibatnya, karena ingin disebut/dianggap “gaul”, tidak sedikit diantara remajanya yang ikut-ikutan untuk segera memiliki pacar, ngedrink, nyimenk, ngedrugs, atau yang lainnya.
Pede aja, lagi !
Bahasa gaul yang ini, ni, mengungkapkan perlunya seseorang untuk “percaya diri” (pede). Namun sayangnya, dalam kehidupan sosial sebagian remajanya, dalam memaknai “percaya diri”, juga seringkali tidak dibatasi oleh norma-norma etika, moral, bahkan agama. Misalnya, ada seorang ABG putri disarankan temannya (atau bahkan orangtuanya sendiri) agar tetap “pede” dengan rok mini dan baju “you can see” yang dikenakannya. Padahal pakaian semacam itu jelas-jelas mempertontonkan aurat. Tapi, apa kata mereka? “Pede aja, lagi!”
Atau, bisa jadi, si gadis tadi yang justru merasa “pede” jika ia memakai pakaian seperti itu – sekalipun teman atau orangtuanya yang melarang. Katanya, “Justru gue merasa pede dengan penampilan seperti ini!”
Contoh lainnya, seorang pemuda/pemudi merasa “pede” ketika tampil dalam suatu ajang, lantaran wajahnya yang cantik atau ganteng. Padahal, dia sendiri tidak begitu peduli jika sikap atau perilakunya menyakiti orang lain. Katanya, “Emang gue pikirin! Yang penting, pede aja, lagi!” Pokoknya, Masih banyak contoh kasus lain yang menunjukkan perlunya seseorang bersikap “pede” namun mengabaikan/bertentangan dengan tuntunan etika, moral, bahkan agama.
Apabila ukuran “pede” seperti itu, berarti nggak bermutu pengertian “pede” yang dimaksud. Mestinya, pemahaman “pede” harus ditempatkan dalam ukuran atau standarisasi nilai-nilai etika, moral, dan agama. Sedangkan, merasa “pede” setelah memakai deodoran di ketiak, itu sih, nggak masalah. Daripada bau ketiak dan mengganggu orang lain?
Kasihan deh, Lu!
Ungkapan yang ini: “Kasihan deh, Lu!” – juga cenderung normlessness. Sebab ungkapan tersebut seringkali terlontar pada konteks yang tidak tepat. Sebagai contoh, seorang remaja yang tidak mau mengikuti tren tertentu dianggap: “Kasihan deh, Lu!”. Begitu pula dengan remaja yang membatasi diri dari perilaku lain yang memang harus dihindari karena tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma agama. Misalnya, karena tidak pernah berajojing sambil triping (ngedrugs), dikatain: “Kasihan deh, Lu!”
Bisa juga, ungkapan “Kasihan deh, Lu” ini tertuju pada seorang (remaja) yang sama sekali tidak mengetahui berbagai informasi yang memang sesungguhnya tidak perlu untuk diketahui. Misalkan saja dia sama sekali tidak mengenal siapa itu: Cinta Laura, Agnes Monica, Bam (Samson), bahkan Ariel (Peterpan). Dia pun dikatain: “Kasihan deh, Lu!” Atau yang lainnya.
Jadi, jelaslah bahwa makna dibalik ungkapan “Kasihan deh, Lu!” seperti yang dimaksud dalam kasus-kasus di atas, sudah tidak tepat lagi maknanya. Keliru, man!
Nyantai aja, Coy!
Kekeliruan lainnya yang menggejala dalam ungkapan bahasa gaul remaja adalah: “Nyantai aja, Coy!”
Tentu tidak masalah dalam kondisi tertentu kita “nyantai”, lebih tepatnya adalah “bersantai” atau istirahat untuk menghilangkan kepenatan. Namun yang menjadi masalah apabila “Nyantai aja, Coy” di sini konteksnya mirip dengan lagu iklan Silver Queen: “…mumpung kiitaa masih muda, santai saja…” Ingat kan?
“Nyantai aja, Coy!” yang dilontarkan sebagian remajanya seringkali bermakna ketidakpedulian terhadap kemajuan atau prestasi diri. Sebagai contoh, seorang remaja mengatakan, “Nyantai aja, Coy!” kepada temannya, karena temannya itu terlihat gelisah lantaran belum belajar untuk persiapan ujian besok pagi.
“Nyantai aja, Coy!” terkadang bisa pula menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial atau orang lain. Misalnya, seorang remaja putri sedang asyik ngobrol ditelepon umum sementara banyak orang antri menunggunya. Ketika salah seorang yang antri menegurnya, ia malah menjawab “Nyantai aja, Coy!”
Jika mau dicermati, tentu masih banyak ungkapan “Nyantai aja, Coy!” yang sering dilontarkan para remajanya namun tidak sesuai dengan konteksnya bahkan keluhuran nilai-nilai akhlak. Repotnya, bila dinasihati untuk menjauhi berbagai perilaku tidak baik – termasuk untuk tidak menggunakan ungkapan yang tidak sesuai dengan konteksnya itu – , maka dengan mudah diantara mereka malah mengatakan, “Nyantai aja, Coy!”
Membudayakan bahasa gaul yang positif
Berbagai ungkapan seperti: “Gaul, dong!”, “Pede aja lagi!”, “Kasihan deh, Lu!”, “Nyantai aja, Coy!” atau mungkin berbagai ungkapan lain, dalam konteksnya sekali lagi seringkali tidak tepat atau tidak dibatasi oleh nilai-nilai tadi: etika, moral agama.
Karena ungkapan dari “bahasa gaul” itu mempunyai pengaruh psikologis yang relatif cukup kuat dalam mempengaruhi seorang remaja dalam komunitas pergaulannya, maka perlu adanya semacam upaya membudayakan “bahasa gaul” yang “positif” di kalangan mereka.
Berikut contoh dalam mengungkapkan “Gaul dong!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, gaul dong dengan buku!” “Masak pelajar atau mahasiswa gaulnya dengan ngedrugs dan ngeseks”. “Masak remaja muslim gaulnya seperti itu. Gaul dong dengan masjid”.
Sedangkan contoh dalam mengungkapkan “Pede aja, lagi!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Kalau sudah belajar, pede aja lagi!” “Kalau kita berada dalam kebenaran, pede aja lagi!” “Kalau sudah berpakaian sopan, kenapa mesti tidak pede!”
Adapun contoh dalam mengungkapkan “Kasihan deh, Lu!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai aetika/moral/agama): “Kasihan deh Lu! Masak mengaku pelajar atau mahasiswa tetapi berurusan dengan polisi (karena terlibat narkoba misalnya)”. “Masak seorang muslim tidak bisa membaca Al Qur’an. Kasihan deh, Lu!”.
Kemudian, contoh dalam mengungkapkan “Nyantai aja, Coy !” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Kalau kita sudah belajar dengan maksimal, nyantai aja.”
Sebagai remaja yang cerdas, tentu nggak mau dong termasuk orang yang “asbun” alias “asal bunyi” dalam bicara. Nah karena itu, sebaiknya kita meninjau kembali apakah “bahasa gaul” yang setiap hari digunakan itu sudah sesuai/tidak konteksnya dengan nilai-nilai kesopanan dan moral/agama. Biar nggak asal bunyi.
Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Silahkan saja menggunakan “bahasa gaul” sebagai cerminan bahwa kita memang remaja yang senang bergaul. Namun hati-hati, jangan karena kita merasa bangga jadi “anak gaul” tetapi “bahasa gaul” yang digunakan tidak tepat konteksnya atau bertentangan dengan nilai-nilai tadi. Jika demikian, bisa-bisa kita malah disebut “anak yang salah gaul”.
“Gaul, dong!”
“Pede aja lagi!”
“Kasihan deh, Lu!”
“Nyantai aja, Coy!”
Begitulah antara lain ungkapan dari bahasa gaul yang seringkali digunakan di kalangan remaja kita. Memang, nggak salah kok, apabila para remajanya menggunakan ungkapan-ungkapan dari bahasanya gaul ini. Yang salah adalah, jika dalam memaknai ungkapan-ungkapan tersebut tidak lagi mengindahkan norma-norma yang berlaku (normlessness). Baik norma-norma etika maupun agama.
Gaul, dong!
Dalam kontes sosial pergaulan remaja, “gaul” bukanlah sekadar kata. Melainkan sudah menjadi istilah atau ungkapan yang ruang lingkupnya menyentuh berbagai perilaku atau gaya hidup. Sayangnya, istilah atau ungkapan itu cenderung mengandung makna yang bertentangan dengan norma-norma tadi. Contoh: berpacaran sambil bermesraan bahkan lengkap dengan ngeseks-nya disebut gaul, minum minuman keras (ngedrink) dianggap gaul, menggunakan obat terlarang (ngedrugs) disebut gaul, berjudi (ngegambling) atau yang lainnya juga dianggap “gaul”. Begitu pula dengan kebiasaan nongkrong, ngeceng, dan sejenisnya.
Kata “gaul” yang sudah menggejala bahkan membudaya itu, disadari atau tidak, memiliki makna psikologis yang relatif cukup kuat pengaruhnya dalam komunitas pergaulan remaja. Akibatnya, karena ingin disebut/dianggap “gaul”, tidak sedikit diantara remajanya yang ikut-ikutan untuk segera memiliki pacar, ngedrink, nyimenk, ngedrugs, atau yang lainnya.
Pede aja, lagi !
Bahasa gaul yang ini, ni, mengungkapkan perlunya seseorang untuk “percaya diri” (pede). Namun sayangnya, dalam kehidupan sosial sebagian remajanya, dalam memaknai “percaya diri”, juga seringkali tidak dibatasi oleh norma-norma etika, moral, bahkan agama. Misalnya, ada seorang ABG putri disarankan temannya (atau bahkan orangtuanya sendiri) agar tetap “pede” dengan rok mini dan baju “you can see” yang dikenakannya. Padahal pakaian semacam itu jelas-jelas mempertontonkan aurat. Tapi, apa kata mereka? “Pede aja, lagi!”
Atau, bisa jadi, si gadis tadi yang justru merasa “pede” jika ia memakai pakaian seperti itu – sekalipun teman atau orangtuanya yang melarang. Katanya, “Justru gue merasa pede dengan penampilan seperti ini!”
Contoh lainnya, seorang pemuda/pemudi merasa “pede” ketika tampil dalam suatu ajang, lantaran wajahnya yang cantik atau ganteng. Padahal, dia sendiri tidak begitu peduli jika sikap atau perilakunya menyakiti orang lain. Katanya, “Emang gue pikirin! Yang penting, pede aja, lagi!” Pokoknya, Masih banyak contoh kasus lain yang menunjukkan perlunya seseorang bersikap “pede” namun mengabaikan/bertentangan dengan tuntunan etika, moral, bahkan agama.
Apabila ukuran “pede” seperti itu, berarti nggak bermutu pengertian “pede” yang dimaksud. Mestinya, pemahaman “pede” harus ditempatkan dalam ukuran atau standarisasi nilai-nilai etika, moral, dan agama. Sedangkan, merasa “pede” setelah memakai deodoran di ketiak, itu sih, nggak masalah. Daripada bau ketiak dan mengganggu orang lain?
Kasihan deh, Lu!
Ungkapan yang ini: “Kasihan deh, Lu!” – juga cenderung normlessness. Sebab ungkapan tersebut seringkali terlontar pada konteks yang tidak tepat. Sebagai contoh, seorang remaja yang tidak mau mengikuti tren tertentu dianggap: “Kasihan deh, Lu!”. Begitu pula dengan remaja yang membatasi diri dari perilaku lain yang memang harus dihindari karena tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma agama. Misalnya, karena tidak pernah berajojing sambil triping (ngedrugs), dikatain: “Kasihan deh, Lu!”
Bisa juga, ungkapan “Kasihan deh, Lu” ini tertuju pada seorang (remaja) yang sama sekali tidak mengetahui berbagai informasi yang memang sesungguhnya tidak perlu untuk diketahui. Misalkan saja dia sama sekali tidak mengenal siapa itu: Cinta Laura, Agnes Monica, Bam (Samson), bahkan Ariel (Peterpan). Dia pun dikatain: “Kasihan deh, Lu!” Atau yang lainnya.
Jadi, jelaslah bahwa makna dibalik ungkapan “Kasihan deh, Lu!” seperti yang dimaksud dalam kasus-kasus di atas, sudah tidak tepat lagi maknanya. Keliru, man!
Nyantai aja, Coy!
Kekeliruan lainnya yang menggejala dalam ungkapan bahasa gaul remaja adalah: “Nyantai aja, Coy!”
Tentu tidak masalah dalam kondisi tertentu kita “nyantai”, lebih tepatnya adalah “bersantai” atau istirahat untuk menghilangkan kepenatan. Namun yang menjadi masalah apabila “Nyantai aja, Coy” di sini konteksnya mirip dengan lagu iklan Silver Queen: “…mumpung kiitaa masih muda, santai saja…” Ingat kan?
“Nyantai aja, Coy!” yang dilontarkan sebagian remajanya seringkali bermakna ketidakpedulian terhadap kemajuan atau prestasi diri. Sebagai contoh, seorang remaja mengatakan, “Nyantai aja, Coy!” kepada temannya, karena temannya itu terlihat gelisah lantaran belum belajar untuk persiapan ujian besok pagi.
“Nyantai aja, Coy!” terkadang bisa pula menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial atau orang lain. Misalnya, seorang remaja putri sedang asyik ngobrol ditelepon umum sementara banyak orang antri menunggunya. Ketika salah seorang yang antri menegurnya, ia malah menjawab “Nyantai aja, Coy!”
Jika mau dicermati, tentu masih banyak ungkapan “Nyantai aja, Coy!” yang sering dilontarkan para remajanya namun tidak sesuai dengan konteksnya bahkan keluhuran nilai-nilai akhlak. Repotnya, bila dinasihati untuk menjauhi berbagai perilaku tidak baik – termasuk untuk tidak menggunakan ungkapan yang tidak sesuai dengan konteksnya itu – , maka dengan mudah diantara mereka malah mengatakan, “Nyantai aja, Coy!”
Membudayakan bahasa gaul yang positif
Berbagai ungkapan seperti: “Gaul, dong!”, “Pede aja lagi!”, “Kasihan deh, Lu!”, “Nyantai aja, Coy!” atau mungkin berbagai ungkapan lain, dalam konteksnya sekali lagi seringkali tidak tepat atau tidak dibatasi oleh nilai-nilai tadi: etika, moral agama.
Karena ungkapan dari “bahasa gaul” itu mempunyai pengaruh psikologis yang relatif cukup kuat dalam mempengaruhi seorang remaja dalam komunitas pergaulannya, maka perlu adanya semacam upaya membudayakan “bahasa gaul” yang “positif” di kalangan mereka.
Berikut contoh dalam mengungkapkan “Gaul dong!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, gaul dong dengan buku!” “Masak pelajar atau mahasiswa gaulnya dengan ngedrugs dan ngeseks”. “Masak remaja muslim gaulnya seperti itu. Gaul dong dengan masjid”.
Sedangkan contoh dalam mengungkapkan “Pede aja, lagi!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Kalau sudah belajar, pede aja lagi!” “Kalau kita berada dalam kebenaran, pede aja lagi!” “Kalau sudah berpakaian sopan, kenapa mesti tidak pede!”
Adapun contoh dalam mengungkapkan “Kasihan deh, Lu!” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai aetika/moral/agama): “Kasihan deh Lu! Masak mengaku pelajar atau mahasiswa tetapi berurusan dengan polisi (karena terlibat narkoba misalnya)”. “Masak seorang muslim tidak bisa membaca Al Qur’an. Kasihan deh, Lu!”.
Kemudian, contoh dalam mengungkapkan “Nyantai aja, Coy !” yang disesuaikan dengan konteksnya (sejalan dengan nilai-nilai etika/moral/agama): “Kalau kita sudah belajar dengan maksimal, nyantai aja.”
Sebagai remaja yang cerdas, tentu nggak mau dong termasuk orang yang “asbun” alias “asal bunyi” dalam bicara. Nah karena itu, sebaiknya kita meninjau kembali apakah “bahasa gaul” yang setiap hari digunakan itu sudah sesuai/tidak konteksnya dengan nilai-nilai kesopanan dan moral/agama. Biar nggak asal bunyi.
Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Silahkan saja menggunakan “bahasa gaul” sebagai cerminan bahwa kita memang remaja yang senang bergaul. Namun hati-hati, jangan karena kita merasa bangga jadi “anak gaul” tetapi “bahasa gaul” yang digunakan tidak tepat konteksnya atau bertentangan dengan nilai-nilai tadi. Jika demikian, bisa-bisa kita malah disebut “anak yang salah gaul”.
Remaja Muslim: Diantara Tahun Baru Hijriah dan Valentine Day
Sopian Muhammad
Sebagaimana kita ketahui bahwa tanggal 10 Februari 2005 bertepatan dengan pergantian tahun baru Hijriah (1 Muharam 1426 H). Sedangkan pada tanggal 14-nya adalah Hari Kasih sayang atau tepatnya disebut Valentine Day.
Di sebagian kalangan remaja termasuk yang muslimnya, Valentine Day seakan lebih bermakna bahkan tidak sedikit dari mereka yang merayakannya dengan bersuka ria bersama pasangan bukan mukhrimnya. Apalagi kalau bukan bersenang-senang, bermesra-mesraan atau memadu kasih diantara mereka. Sedangkan tahun baru Hijriah seolah hanya pergantian tahun yang tidak memiliki makna apapun. Begitulah gejala sosial yang terjadi di sebagian kaum muda kita termasuk remaja muslimnya.
Memahami Tahun Hijriah dan Valentine Day
Nah, bagi kamu-kamu terutama para remaja atau muda mudi muslim, seharusnya sudah memahami bahwa tahun baru Hijriah memiliki makna yang penting dan mendalam. Pasalnya tahun Hijriah tidak bisa dilepaskan dengan sejarah awal mula perjuangan Rasulullah Saw dalam mengemban risalah (Islam) yang dalam perjalanannya diwarnai dengan berbagai rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Tidak saja berupa cercaan, teror dan intimidasi kekerasan, tetapi juga harus berhadapan dengan beragam ancaman pembunuhan dari kalangan kafirin ketika itu.
Perlu selalu kita ingat bahwa awal mula (tahun) Hijriah pun terkait dengan latar belakang Rasulullah Saw dan para pengikutnya untuk berhijrah ke Madinah. Prosesi hijrah ini pada prinsipnya bertujuan memperluas lapangan dakwah sekaligus memperkuat posisi umat Islam seperti yang terjadi di Madinah saat itu. Hal ini terwujud karena umat Islam termasuk generasi mudanya bersatu padu dalam menghadapi ancaman yang dapat melemahkan umat Islam dan akidah yang dianutnya. Singkatnya, awal mula tahun Hijriah ini tidak terlepas dengan hijrahnya Rasulullah dan para pengikutnya dalam mengemban syiar Islam.
Berdasarkan tinjauan historis filosofis ini, bagi umat Islam termasuk para remajanya, tahun baru Hijriah sejatinya menjadi momen untuk instrospeksi (muhasabah) dan berhijrah ; yaitu memperbaharui diri dengan meningkatkan kualitas keimanan. Caranya antara lain dengan menghindari pola hidup yang bersumber dari budaya yang justru dapat melemahkan akidah Islam termasuk ber-Valentine Day-ria. Singkatnya, enggak usah deh kita ikut-ikutan budaya yang nggak sesuai dengan agama kita. Sebab- maaf ya- kalau para remajanya suka asal ngikut, jadinya seperti kumpulan para bebek. Nggak mau kan kita disebut “generasi bebek” ?
Para remaja juga harus menyadari bahwa Pergantian tahun baru Hijriah pada hakekatnya adalah rangkaian pergeseran waktu demi waktu dalam “satu masa”. Apabila dianalogikan, waktu itu ibarat ulat yang menggerogoti daun. Sedangkan yang menjadi daunnya adalah (umur) kita sebagai manusia. Jadi pergantian tahun baru yang dibarengi ber-Valentine Day-ria seperti tadi, pada dasarnya menyia-nyiakan usia kita yang semakin berkurang. Masak berkurangnya sisa hidup disambut dengan perilaku yang membuat kita berlumuran dosa. Kan nggak cerdas.
Persoalan sosial budaya dari Valentine Day yang menggejala - dalam hal ini di kalangan remaja muslimnya – sesungguhnya terletak dari kekeliruan dalam menyikapi. Sebab Valentine Day merupakan bagian dari globalisasi budaya Barat yang sarat dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Islam. Karenanya sekali lagi kita jangan asal meniru sesuatu yang justru dapat memperlemah akidah yang seharusnya kita pegang teguh.
Sebagai generasi penerus, termasuk kamu-kamu yang masih remaja, harus mengetahui bahwa Barat terutama dengan pengaruh globalisasinya berupaya untuk mengikis nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku hidup kita. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai kita semua mengikuti budaya atau keinginan mereka. Makanya, dari dulu hingga kini, terjadi apa yang disebut sebagai konflik peradaban (clash of civilizations).
Konflik peradaban dalam konteks ini adalah terjadinya benturan antara peradaban Islam dengan peradaban Barat. Seperti diungkapkan Maryam Jameela – seorang Yahudi Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Margaret Marcus – konflik ini terjadi karena terdapat perbedaan yang sangat mendasar (fundamental) antara Barat dengan Islam (A. Husaini, 1999 :17). Peradaban Barat dilandasi sekulerisme-hedonisme (faham yang mengutamakan kesenangan duniawi - menyampingkan keimanan dalam berbagai aspek kehidupan tertentu), sedangkan peradaban Islam dilandasi keimanan (yang ruang lingkupnya menyentuh segala aspek kehidupan). Jadi semakin jelas, kan bedanya antara (peradaban) Barat dengan Islam?
Selain itu Samuel P Huntington sendiri, seorang “tokoh Barat” berbangsa Amerika keturunan Yahudi mengisyaratkan, Barat (dipelopori Amerika) berusaha “memaksakan” umat manusia (terutama umat Islam) di seluruh dunia untuk menerima dan mengakui nilai-nilai yang berlaku di Barat sebagai nilai-nilai yang bersifat universal (E. Sudjana, 2002 : 28). Caranya antara lain dengan mengglobalisasikan berbagai gaya hidup atau budaya yang dianut oleh mereka. Dan ber-Valentine Day-ria adalah salah satunya.
Dari sebuah literatur disebutkan, tercetusnya Valentine Day bermula di Amerika. Dalam menyambut Valentine Day ini, muda mudi Amerika bersuka ria bersama pasangannya terutama dalam memadu kasih (bermesra-mesraan dan bercinta) diantara mereka. Apabila remaja muslim kita menyambut Valentine Day ini dengan perilaku semacam itu tentu saja hal ini suatu keanehan sekaligus keironian yang memprihatinkan. Pasalnya, disatu sisi Barat dengan kekuatan pengaruh globalisasi budayanya itu - dalam konteks ini Valentine Day - berusaha “menjerat” generasi muda muslim, di sisi lain, remaja muslimnya malah menyambut atau mengikutinya. Padahal Rasul kita bersabda :
“Barang siapa yang meniru suatu golongan, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.”
Valentie Day sebagai Budaya (Barat)
Ber-Valentine Day-ria adalah bagian dari peniruan (imitasi) terhadap budaya Barat. Adapun budaya (culture) menurut Mac Iver adalah ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam pergaulan, sikap atau perilaku seseorang (Suparno, 1987 : 164).
Menurut Muhammad Asad (sebelum masuk Islam bernama Leopold Weiss), hanya manusia yang sangat dangkal pandangannya dapat percaya bahwa kita meniru suatu kebudayaan tanpa dipengaruhi jiwa kebudayaan itu (Z.Asharfillah, 2003 : 44). Karena itu apabila kita tidak mau disebut “berpandangan dangkal”, maka jangan asal meniru budaya tersebut.
Dalam wacana kebudayaan, penyebaran kebudayaan (difusi) sangat mempengaruhi terjadinya peniruan ini (peniruan terhadap budaya Barat). Sedangkan akibatnya terjadilah pergeseran sosial budaya (culture social change) yang dapat mengancam nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat terutama di kalangan muda-mudi muslimnya. Begitu pula apabila para remajanya asyik masyuk ber-Valentine Day-ria.
Karena globalisasi budaya ini sudah tidak bisa dihindari, maka kita mesti berhati-hati untuk tidak terpengaruh ataupun terjebak dalam pola pikir, sikap, dan perilaku yang mengarah kepada nilai-nilai budaya Barat seperti halnya dalam menyikapi kehadiran Valentine Day. Sedangkan generasi muda Islam yang ber-Valentine Day-ria dapat dikatakan sebagai “korban budaya” atau “korban globalisasi” karena “tergiur” atau “terlena” oleh nilai-nilai (budaya) Barat. Apalagi, hakekat dari ber-Valentine Day-ria, sebenarnya tidak hanya sebatas dalam pengertian rutinitas budaya tahunan setiap 14 Februari, tetapi sudah menjadi perilaku (budaya) keseharian di kalangan remaja atau muda mudi muslim ; memadu kasih dengan pasangan yang bukan mukhrimnya.
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman...”(QS.Al Baqarah : 212)
Valentine Day diantara Globalisasi Budaya
Barat menyadari, untuk mengalahkan umat Islam, mereka harus menyerang secara total dan menyeluruh, mencakup sisi aqidah, syariah, akhlak, serta melalui tradisi yang disusupkan dengan berbagai cara. Singkatnya, program penghancuran akidah umat Islam bersifat menyeluruh atau mencakup semua aspek kehidupan. Umat Islam, terutama generasi mudanya akan terus dibuat ragu terhadap ajaran agama, dan diupayakan agar sedikit demi sedikit mereka meninggalkan nilai-nilai Islam. Begitulah yang kini terus gencar dilakukan Barat.
Adanya gembar-gembor bahwa Valentine Day adalah suatu tradisi dari kehidupan kaula muda modern, pada dasarnya merupakan cara berpikir yang sengaja dihembuskan oleh Barat melalui perekayasaan opini. Ironisnya, tidak sedikit generasi muda muslimnya tidak menyadari hal itu sehingga mereka terbawa, terlena, bahkan turut memakmurkan budaya jahiliyah modern ini (ber-Valentine Day-ria).
Keberhasilan Barat ini terjadi karena kuatnya pengaruh media massa yang mereka miliki termasuk film-filmnya. Barat sengaja memanfaatkan momen Valentine Day untuk terus mengglobalisasikan budaya ini melalui dukungan agenda setting media massa termasuk film-filmnya tadi. Makanya tidaklah mengherankan apabila dalam menyambut Valentine Day kita sering melihat media massa (ironisnya tidak hanya media massa Barat) mengangkat momen ini terkait dengan hal-hal asmara atau percintaan. Begitu pula dengan film-filmnya : bertemakan Valentine. Apalagi kalau bukan menampilkan kisah kasih pasangan remaja atau muda mudinya. Lebih memprihatinkan, karena film-film bernuansa Valentine ini cukup ramai ditayangkan di televisi kita (terutama) setiap tahunnya di bulan Februari ini. Bahkan setiap hari pun televisi kita sesungguhnya telah banyak menayangkan sinetron-sinetron yang bernuansa “valentine.” Yaitu kisah kehidupan percintaan pasangan remaja.
Valentine Day hanyalah salah satu upaya Barat dalam mengglobalisasikan budaya mereka agar umat Islam terutama para remajanya sedikit demi sedikit menjauhi nilai-nilai Islam. Karena itu, mengingat begitu dahsyat dan gencarnya upaya Barat untuk terus melemahkan dan menghancurkan akidah umat Islam, maka di tahun baru Hijriah ini, mari kita bermuhasabah, instrospeksi, menyadari diri kita dan kapasitas kita sebagai seorang muslim untuk segera berhijrah. Yaitu memperbaharui diri dengan meningkatkan kualitas keimanan sekaligus meneruskan perjuangan dalam mengemban risalah (Islam) yang telah diperjuangkan Rasulullah dengan susah payah ini.
Memaknai Hijrah
Hakekat berhijrah pada dasarnya berkenaan dengan potensi memanfaatkan waktu seoptimal mungkin dalam memperbanyak amal saleh. Dari sebuah keterangan disebutkan ; ada tiga kemungkinan seseorang dalam memanfaatkan waktu. Siapa yang kualitas amalnya lebih buruk dari hari kemarin, itulah orang yang terlaknat. Siapa yang kualitas amal salehnya hari ini sama dengan hari kemarin, dialah orang yang tertipu. Sedangkan orang yang beruntung dan mendapat rahmat yaitu orang yang kualitas amal salehnya jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Dalam konteks ini, jelaslah bahwa orang-orang yang beruntung dan mendapat rahmat merupakan tujuan final dari berhijrah. Karenanya sebaik-baik berhijrah adalah memanfaatkan sesegera mungkin waktu yang tersedia dengan memperbanyak amal ibadah. Jangan beranggapan, bahwa sebagai remaja kita masih banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas keimanan. Sebab kita tidak pernah tahu apakah waktu yang kita rasakan hari ini masih dapat kita nikmati pada esok hari atau tidak. Jadi, karena ketidaktahuan itulah maka kita harus segera berhijrah sebelum tidak sempat lagi melakukannya.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ber-Valentine Day-ria sangat bertentangan dengan kapasitas kita sebagai penerus pengemban risalah (Islam). Dengan demikian tahun baru Hijriah ini sejatinya merupakan momen yang tepat untuk muhasabah (instrospeksi) dan berhijrah : memperbaharui diri.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran.” (Al Ashr : 1-3)
Selamat tahun baru Hijriah ; 1 Muharam 1426 H. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjadikan moment ini untuk (terus) berhijrah. Amin
Sebagaimana kita ketahui bahwa tanggal 10 Februari 2005 bertepatan dengan pergantian tahun baru Hijriah (1 Muharam 1426 H). Sedangkan pada tanggal 14-nya adalah Hari Kasih sayang atau tepatnya disebut Valentine Day.
Di sebagian kalangan remaja termasuk yang muslimnya, Valentine Day seakan lebih bermakna bahkan tidak sedikit dari mereka yang merayakannya dengan bersuka ria bersama pasangan bukan mukhrimnya. Apalagi kalau bukan bersenang-senang, bermesra-mesraan atau memadu kasih diantara mereka. Sedangkan tahun baru Hijriah seolah hanya pergantian tahun yang tidak memiliki makna apapun. Begitulah gejala sosial yang terjadi di sebagian kaum muda kita termasuk remaja muslimnya.
Memahami Tahun Hijriah dan Valentine Day
Nah, bagi kamu-kamu terutama para remaja atau muda mudi muslim, seharusnya sudah memahami bahwa tahun baru Hijriah memiliki makna yang penting dan mendalam. Pasalnya tahun Hijriah tidak bisa dilepaskan dengan sejarah awal mula perjuangan Rasulullah Saw dalam mengemban risalah (Islam) yang dalam perjalanannya diwarnai dengan berbagai rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Tidak saja berupa cercaan, teror dan intimidasi kekerasan, tetapi juga harus berhadapan dengan beragam ancaman pembunuhan dari kalangan kafirin ketika itu.
Perlu selalu kita ingat bahwa awal mula (tahun) Hijriah pun terkait dengan latar belakang Rasulullah Saw dan para pengikutnya untuk berhijrah ke Madinah. Prosesi hijrah ini pada prinsipnya bertujuan memperluas lapangan dakwah sekaligus memperkuat posisi umat Islam seperti yang terjadi di Madinah saat itu. Hal ini terwujud karena umat Islam termasuk generasi mudanya bersatu padu dalam menghadapi ancaman yang dapat melemahkan umat Islam dan akidah yang dianutnya. Singkatnya, awal mula tahun Hijriah ini tidak terlepas dengan hijrahnya Rasulullah dan para pengikutnya dalam mengemban syiar Islam.
Berdasarkan tinjauan historis filosofis ini, bagi umat Islam termasuk para remajanya, tahun baru Hijriah sejatinya menjadi momen untuk instrospeksi (muhasabah) dan berhijrah ; yaitu memperbaharui diri dengan meningkatkan kualitas keimanan. Caranya antara lain dengan menghindari pola hidup yang bersumber dari budaya yang justru dapat melemahkan akidah Islam termasuk ber-Valentine Day-ria. Singkatnya, enggak usah deh kita ikut-ikutan budaya yang nggak sesuai dengan agama kita. Sebab- maaf ya- kalau para remajanya suka asal ngikut, jadinya seperti kumpulan para bebek. Nggak mau kan kita disebut “generasi bebek” ?
Para remaja juga harus menyadari bahwa Pergantian tahun baru Hijriah pada hakekatnya adalah rangkaian pergeseran waktu demi waktu dalam “satu masa”. Apabila dianalogikan, waktu itu ibarat ulat yang menggerogoti daun. Sedangkan yang menjadi daunnya adalah (umur) kita sebagai manusia. Jadi pergantian tahun baru yang dibarengi ber-Valentine Day-ria seperti tadi, pada dasarnya menyia-nyiakan usia kita yang semakin berkurang. Masak berkurangnya sisa hidup disambut dengan perilaku yang membuat kita berlumuran dosa. Kan nggak cerdas.
Persoalan sosial budaya dari Valentine Day yang menggejala - dalam hal ini di kalangan remaja muslimnya – sesungguhnya terletak dari kekeliruan dalam menyikapi. Sebab Valentine Day merupakan bagian dari globalisasi budaya Barat yang sarat dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Islam. Karenanya sekali lagi kita jangan asal meniru sesuatu yang justru dapat memperlemah akidah yang seharusnya kita pegang teguh.
Sebagai generasi penerus, termasuk kamu-kamu yang masih remaja, harus mengetahui bahwa Barat terutama dengan pengaruh globalisasinya berupaya untuk mengikis nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku hidup kita. Mereka tidak akan pernah berhenti sampai kita semua mengikuti budaya atau keinginan mereka. Makanya, dari dulu hingga kini, terjadi apa yang disebut sebagai konflik peradaban (clash of civilizations).
Konflik peradaban dalam konteks ini adalah terjadinya benturan antara peradaban Islam dengan peradaban Barat. Seperti diungkapkan Maryam Jameela – seorang Yahudi Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Margaret Marcus – konflik ini terjadi karena terdapat perbedaan yang sangat mendasar (fundamental) antara Barat dengan Islam (A. Husaini, 1999 :17). Peradaban Barat dilandasi sekulerisme-hedonisme (faham yang mengutamakan kesenangan duniawi - menyampingkan keimanan dalam berbagai aspek kehidupan tertentu), sedangkan peradaban Islam dilandasi keimanan (yang ruang lingkupnya menyentuh segala aspek kehidupan). Jadi semakin jelas, kan bedanya antara (peradaban) Barat dengan Islam?
Selain itu Samuel P Huntington sendiri, seorang “tokoh Barat” berbangsa Amerika keturunan Yahudi mengisyaratkan, Barat (dipelopori Amerika) berusaha “memaksakan” umat manusia (terutama umat Islam) di seluruh dunia untuk menerima dan mengakui nilai-nilai yang berlaku di Barat sebagai nilai-nilai yang bersifat universal (E. Sudjana, 2002 : 28). Caranya antara lain dengan mengglobalisasikan berbagai gaya hidup atau budaya yang dianut oleh mereka. Dan ber-Valentine Day-ria adalah salah satunya.
Dari sebuah literatur disebutkan, tercetusnya Valentine Day bermula di Amerika. Dalam menyambut Valentine Day ini, muda mudi Amerika bersuka ria bersama pasangannya terutama dalam memadu kasih (bermesra-mesraan dan bercinta) diantara mereka. Apabila remaja muslim kita menyambut Valentine Day ini dengan perilaku semacam itu tentu saja hal ini suatu keanehan sekaligus keironian yang memprihatinkan. Pasalnya, disatu sisi Barat dengan kekuatan pengaruh globalisasi budayanya itu - dalam konteks ini Valentine Day - berusaha “menjerat” generasi muda muslim, di sisi lain, remaja muslimnya malah menyambut atau mengikutinya. Padahal Rasul kita bersabda :
“Barang siapa yang meniru suatu golongan, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.”
Valentie Day sebagai Budaya (Barat)
Ber-Valentine Day-ria adalah bagian dari peniruan (imitasi) terhadap budaya Barat. Adapun budaya (culture) menurut Mac Iver adalah ekspresi dari jiwa yang terwujud dalam pergaulan, sikap atau perilaku seseorang (Suparno, 1987 : 164).
Menurut Muhammad Asad (sebelum masuk Islam bernama Leopold Weiss), hanya manusia yang sangat dangkal pandangannya dapat percaya bahwa kita meniru suatu kebudayaan tanpa dipengaruhi jiwa kebudayaan itu (Z.Asharfillah, 2003 : 44). Karena itu apabila kita tidak mau disebut “berpandangan dangkal”, maka jangan asal meniru budaya tersebut.
Dalam wacana kebudayaan, penyebaran kebudayaan (difusi) sangat mempengaruhi terjadinya peniruan ini (peniruan terhadap budaya Barat). Sedangkan akibatnya terjadilah pergeseran sosial budaya (culture social change) yang dapat mengancam nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat terutama di kalangan muda-mudi muslimnya. Begitu pula apabila para remajanya asyik masyuk ber-Valentine Day-ria.
Karena globalisasi budaya ini sudah tidak bisa dihindari, maka kita mesti berhati-hati untuk tidak terpengaruh ataupun terjebak dalam pola pikir, sikap, dan perilaku yang mengarah kepada nilai-nilai budaya Barat seperti halnya dalam menyikapi kehadiran Valentine Day. Sedangkan generasi muda Islam yang ber-Valentine Day-ria dapat dikatakan sebagai “korban budaya” atau “korban globalisasi” karena “tergiur” atau “terlena” oleh nilai-nilai (budaya) Barat. Apalagi, hakekat dari ber-Valentine Day-ria, sebenarnya tidak hanya sebatas dalam pengertian rutinitas budaya tahunan setiap 14 Februari, tetapi sudah menjadi perilaku (budaya) keseharian di kalangan remaja atau muda mudi muslim ; memadu kasih dengan pasangan yang bukan mukhrimnya.
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman...”(QS.Al Baqarah : 212)
Valentine Day diantara Globalisasi Budaya
Barat menyadari, untuk mengalahkan umat Islam, mereka harus menyerang secara total dan menyeluruh, mencakup sisi aqidah, syariah, akhlak, serta melalui tradisi yang disusupkan dengan berbagai cara. Singkatnya, program penghancuran akidah umat Islam bersifat menyeluruh atau mencakup semua aspek kehidupan. Umat Islam, terutama generasi mudanya akan terus dibuat ragu terhadap ajaran agama, dan diupayakan agar sedikit demi sedikit mereka meninggalkan nilai-nilai Islam. Begitulah yang kini terus gencar dilakukan Barat.
Adanya gembar-gembor bahwa Valentine Day adalah suatu tradisi dari kehidupan kaula muda modern, pada dasarnya merupakan cara berpikir yang sengaja dihembuskan oleh Barat melalui perekayasaan opini. Ironisnya, tidak sedikit generasi muda muslimnya tidak menyadari hal itu sehingga mereka terbawa, terlena, bahkan turut memakmurkan budaya jahiliyah modern ini (ber-Valentine Day-ria).
Keberhasilan Barat ini terjadi karena kuatnya pengaruh media massa yang mereka miliki termasuk film-filmnya. Barat sengaja memanfaatkan momen Valentine Day untuk terus mengglobalisasikan budaya ini melalui dukungan agenda setting media massa termasuk film-filmnya tadi. Makanya tidaklah mengherankan apabila dalam menyambut Valentine Day kita sering melihat media massa (ironisnya tidak hanya media massa Barat) mengangkat momen ini terkait dengan hal-hal asmara atau percintaan. Begitu pula dengan film-filmnya : bertemakan Valentine. Apalagi kalau bukan menampilkan kisah kasih pasangan remaja atau muda mudinya. Lebih memprihatinkan, karena film-film bernuansa Valentine ini cukup ramai ditayangkan di televisi kita (terutama) setiap tahunnya di bulan Februari ini. Bahkan setiap hari pun televisi kita sesungguhnya telah banyak menayangkan sinetron-sinetron yang bernuansa “valentine.” Yaitu kisah kehidupan percintaan pasangan remaja.
Valentine Day hanyalah salah satu upaya Barat dalam mengglobalisasikan budaya mereka agar umat Islam terutama para remajanya sedikit demi sedikit menjauhi nilai-nilai Islam. Karena itu, mengingat begitu dahsyat dan gencarnya upaya Barat untuk terus melemahkan dan menghancurkan akidah umat Islam, maka di tahun baru Hijriah ini, mari kita bermuhasabah, instrospeksi, menyadari diri kita dan kapasitas kita sebagai seorang muslim untuk segera berhijrah. Yaitu memperbaharui diri dengan meningkatkan kualitas keimanan sekaligus meneruskan perjuangan dalam mengemban risalah (Islam) yang telah diperjuangkan Rasulullah dengan susah payah ini.
Memaknai Hijrah
Hakekat berhijrah pada dasarnya berkenaan dengan potensi memanfaatkan waktu seoptimal mungkin dalam memperbanyak amal saleh. Dari sebuah keterangan disebutkan ; ada tiga kemungkinan seseorang dalam memanfaatkan waktu. Siapa yang kualitas amalnya lebih buruk dari hari kemarin, itulah orang yang terlaknat. Siapa yang kualitas amal salehnya hari ini sama dengan hari kemarin, dialah orang yang tertipu. Sedangkan orang yang beruntung dan mendapat rahmat yaitu orang yang kualitas amal salehnya jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Dalam konteks ini, jelaslah bahwa orang-orang yang beruntung dan mendapat rahmat merupakan tujuan final dari berhijrah. Karenanya sebaik-baik berhijrah adalah memanfaatkan sesegera mungkin waktu yang tersedia dengan memperbanyak amal ibadah. Jangan beranggapan, bahwa sebagai remaja kita masih banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas keimanan. Sebab kita tidak pernah tahu apakah waktu yang kita rasakan hari ini masih dapat kita nikmati pada esok hari atau tidak. Jadi, karena ketidaktahuan itulah maka kita harus segera berhijrah sebelum tidak sempat lagi melakukannya.
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ber-Valentine Day-ria sangat bertentangan dengan kapasitas kita sebagai penerus pengemban risalah (Islam). Dengan demikian tahun baru Hijriah ini sejatinya merupakan momen yang tepat untuk muhasabah (instrospeksi) dan berhijrah : memperbaharui diri.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya tetap dalam kesabaran.” (Al Ashr : 1-3)
Selamat tahun baru Hijriah ; 1 Muharam 1426 H. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjadikan moment ini untuk (terus) berhijrah. Amin
Budaya Kekeliruan Menempatkan Makna Pede di Kalangan Generasi Mudanya
Sopian Muhammad
Percaya diri atau pede - begitu kata populernya dikalangan muda kita - terkait dengan keberanian untuk bersikap, tampil dalam menghadapi sesuatu. Pede, sangat penting dimiliki setiap orang. Apalagi bagi generasi mudanya.
Salah satu permasalahan yang sangat mendasar, adalah ketika makna pede ini tidak lagi dilandasi oleh nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi. Baik nilai-nilai luhur budaya maupun agama.
Munculnya berbagai kekeliruan dalam menempatkan makna pede, tidak terlepas dari lemahnya pendidikan, penghayatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai tadi. Sedangkan orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya atau agama, senantiasa menempatkan makna pede yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut. Hal ini tercermin dari sikap dan perilakunya, atau ketika bergaul dengan lingkungannya.
Kekeliruan menempatkan makna pede sudah sangat menggejala dalam kehidupan bangsa kita, khususnya di kalangan generasi mudanya. Misalnya, menyikapi makna pede dengan ukuran fisik – materi (semata). Artinya seseorang hanya merasa pede apabila memiliki fisik yang sempurna plus menarik: cantik atau tampan. Atau yang mengandalkan kepedean dari segi materi.
Kekeliruan lain dalam menempatkan makna pede yaitu berdasarkan tren atau modernisasi. Meskipun modernisasi ini dimaknai dengan salah kaprah pula. Contohnya adalah merasa pede dengan mengikuti berbagai tren yang sebenarnya seringkali berseberangan dengan nilai-nilai luhur budaya atau agama yang seharusnya dijunjung tinggi. Baik tren dalam fashion, fun, atau bahkan food.
Bicara soal tren (trend) fashion, pakaian yang supermini, superketat, dan terbuka seringkali menjadi modelnya. Masalahnya, banyak generasi muda yang merasa pede dengan penampilan seperti itu. Padahal, dilihat dari dampak sosial, cara berpakaian yang cenderung seronok seperti itu (bagi perempuan) malah dapat mengundang birahi para lelaki. Atau ada pula diantaranya yang bisa melontarkan perkataan bernada cabul yang melecehkan harga diri si perempuannya. Bahkan bisa mengundang tindak pemerkosaan yang merenggut kehormatan.
Sedangkan bersenang-senang dengan cara tertentu juga merupakan bagian dari tren (fun) yang dianggap menimbulkan kepedean. Padahal cara bersenang-senang ini tidak sejalan dengan keluhuran nilai-nilai budaya atau agama seperti seks bebas, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, dan yang lainnya.
Munculnya gejala kepedean lain, ternyata dapat dicermati pula dalam menjadikan (memilih) makanan tertentu (food). Misalnya merasa pede apabila memilih makan yang berbau luar negeri ketimbang khas Indonesia. Inilah konsekuensi ketika food dijadikan salah satu tren atau gaya hidup.
Kalau dikaji secara lebih mendalam, dibalik kekeliruan dalam memaknai kepedean ini, sebenarnya tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai budaya Barat. Dengan kekuatan ekonomi dan politik yang didukung oleh film-filmnya, penguasaan teknologi informasi dan media massanya, pengaruh budaya Barat telah membuat sebagian generasi muda harapan bangsa terpedaya. Ironisnya, diantara unsur masyarakat bahkan pemerintah – sadar atau tidak – turut membudayakan/memperkuat pengaruh negatif dari budaya Barat ini.Contoh sederhananya adalah dengan semakin banyaknya akses di negeri ini yang membuat generasi muda kita terpengaruh oleh nilai-nilai Barat yang berseberangan dengan keluhuran nilai-nilai kita (budaya dan agama).
Memang, rakyat, termasuk generasi mudanya, diminta untuk tidak mengikuti nilai-nilai Barat yang dianggap negatif atau berseberangan dengan budaya kita. Tapi, jika itu yang lebih ditekankan, betapa tidak bertanggung jawabnya pemerintah kita. Padahal kenyataannya, (semakin) banyak rakyat terutama generasi mudanya, terlena dan terpedaya oleh pengaruh negatif budaya Barat. Bahkan mereka merasa pede dengan menganut gaya hidup seperti itu.
Sungguh! Jika pemerintah lebih banyak menyerahkan kepada rakyatnya untuk “memilih” seperti itu, betapa besar pengorbanannya. Sebab yang dikorbankan adalah nilai-nilai luhur budaya yang menjadi jati diri bangsa.
Harus ada langkah-langkah riil untuk mengantisifasi agar pengaruh negatif dari budaya Barat ini tidak semakin merebak dan meracuni moral generasi muda kita. Lebih idealnya, bagaimana agar generasi muda merasa pede menjalankan keluhuran nilai-nilai budaya bangsa dalam hidupnya. Sertaya tetap menjaganya agar mereka tidak terpengaruh dari nilai-nilai destruktif budaya asing.
Bukankah mereka adalah harapan bangsa? Penentu masa depan negeri ini?
Percaya diri atau pede - begitu kata populernya dikalangan muda kita - terkait dengan keberanian untuk bersikap, tampil dalam menghadapi sesuatu. Pede, sangat penting dimiliki setiap orang. Apalagi bagi generasi mudanya.
Salah satu permasalahan yang sangat mendasar, adalah ketika makna pede ini tidak lagi dilandasi oleh nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi. Baik nilai-nilai luhur budaya maupun agama.
Munculnya berbagai kekeliruan dalam menempatkan makna pede, tidak terlepas dari lemahnya pendidikan, penghayatan, dan pengamalan terhadap nilai-nilai tadi. Sedangkan orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya atau agama, senantiasa menempatkan makna pede yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut. Hal ini tercermin dari sikap dan perilakunya, atau ketika bergaul dengan lingkungannya.
Kekeliruan menempatkan makna pede sudah sangat menggejala dalam kehidupan bangsa kita, khususnya di kalangan generasi mudanya. Misalnya, menyikapi makna pede dengan ukuran fisik – materi (semata). Artinya seseorang hanya merasa pede apabila memiliki fisik yang sempurna plus menarik: cantik atau tampan. Atau yang mengandalkan kepedean dari segi materi.
Kekeliruan lain dalam menempatkan makna pede yaitu berdasarkan tren atau modernisasi. Meskipun modernisasi ini dimaknai dengan salah kaprah pula. Contohnya adalah merasa pede dengan mengikuti berbagai tren yang sebenarnya seringkali berseberangan dengan nilai-nilai luhur budaya atau agama yang seharusnya dijunjung tinggi. Baik tren dalam fashion, fun, atau bahkan food.
Bicara soal tren (trend) fashion, pakaian yang supermini, superketat, dan terbuka seringkali menjadi modelnya. Masalahnya, banyak generasi muda yang merasa pede dengan penampilan seperti itu. Padahal, dilihat dari dampak sosial, cara berpakaian yang cenderung seronok seperti itu (bagi perempuan) malah dapat mengundang birahi para lelaki. Atau ada pula diantaranya yang bisa melontarkan perkataan bernada cabul yang melecehkan harga diri si perempuannya. Bahkan bisa mengundang tindak pemerkosaan yang merenggut kehormatan.
Sedangkan bersenang-senang dengan cara tertentu juga merupakan bagian dari tren (fun) yang dianggap menimbulkan kepedean. Padahal cara bersenang-senang ini tidak sejalan dengan keluhuran nilai-nilai budaya atau agama seperti seks bebas, minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, dan yang lainnya.
Munculnya gejala kepedean lain, ternyata dapat dicermati pula dalam menjadikan (memilih) makanan tertentu (food). Misalnya merasa pede apabila memilih makan yang berbau luar negeri ketimbang khas Indonesia. Inilah konsekuensi ketika food dijadikan salah satu tren atau gaya hidup.
Kalau dikaji secara lebih mendalam, dibalik kekeliruan dalam memaknai kepedean ini, sebenarnya tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai budaya Barat. Dengan kekuatan ekonomi dan politik yang didukung oleh film-filmnya, penguasaan teknologi informasi dan media massanya, pengaruh budaya Barat telah membuat sebagian generasi muda harapan bangsa terpedaya. Ironisnya, diantara unsur masyarakat bahkan pemerintah – sadar atau tidak – turut membudayakan/memperkuat pengaruh negatif dari budaya Barat ini.Contoh sederhananya adalah dengan semakin banyaknya akses di negeri ini yang membuat generasi muda kita terpengaruh oleh nilai-nilai Barat yang berseberangan dengan keluhuran nilai-nilai kita (budaya dan agama).
Memang, rakyat, termasuk generasi mudanya, diminta untuk tidak mengikuti nilai-nilai Barat yang dianggap negatif atau berseberangan dengan budaya kita. Tapi, jika itu yang lebih ditekankan, betapa tidak bertanggung jawabnya pemerintah kita. Padahal kenyataannya, (semakin) banyak rakyat terutama generasi mudanya, terlena dan terpedaya oleh pengaruh negatif budaya Barat. Bahkan mereka merasa pede dengan menganut gaya hidup seperti itu.
Sungguh! Jika pemerintah lebih banyak menyerahkan kepada rakyatnya untuk “memilih” seperti itu, betapa besar pengorbanannya. Sebab yang dikorbankan adalah nilai-nilai luhur budaya yang menjadi jati diri bangsa.
Harus ada langkah-langkah riil untuk mengantisifasi agar pengaruh negatif dari budaya Barat ini tidak semakin merebak dan meracuni moral generasi muda kita. Lebih idealnya, bagaimana agar generasi muda merasa pede menjalankan keluhuran nilai-nilai budaya bangsa dalam hidupnya. Sertaya tetap menjaganya agar mereka tidak terpengaruh dari nilai-nilai destruktif budaya asing.
Bukankah mereka adalah harapan bangsa? Penentu masa depan negeri ini?
Langganan:
Postingan (Atom)