Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Juli 2008

Pa, Wanda Kangen Sama Mama...

Sopian Muhammad

....
Suatu ketika Wanda merasakan ada sesuatu yang lain dengan perilaku papanya. Sebab sikap sang papa yang biasanya periang, akhir-akhir ini sering melamun dan menjadi lebih pendiam seperti memikirkan sesuatu. Bahkan ketika papanya itu memasuki rumah - saat pulang dari kantor - suara setengah berteriak memanggil-manggil Wanda tidak pernah terlontar lagi dari mulut lelaki itu.

“Mungkinkah papa sedang menghadapi masalah dengan pekerjaannya di kantor ?” kata hatinya.

“Papa punya masalah ya, dengan pekerjaan di kantor ?” tanyanya suatu ketika mengagetkan orang tua itu yang tengah duduk tak bergairah di sofa ruang tengah.

“Oh anu ! Iya,” jawabnya terbata-bata.

“Iya apa, Pa ?”
“Iya, Papa sedang banyak masalah di kantor,” ujarnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

“Mungkin sebaiknya Papa cuti kerja aja dulu,” saran Wanda.

“Tidak Wanda. Justru kalau....”

“Kalau apa, Pa ?” potong Wanda penasaran.

“Nggak apa-apa. Pasti masalah pekerjaan di kantor bisa papa selesaikan. Percaya deh, sama papa, ya!” katanya sambil memaksakan diri untuk bersenyum.
Jawaban-jawaban papanya ternyata tidak membuat gadis cilik berusia empat belasan itu merasa puas. Tapi justru mengundang berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Bahkan Wanda merasa, papanya seperti telah berbohong. Entah karena kebohongan itu terlihat oleh Wanda dari sorot mata orang tuanya, dari cara menjawabnya, atau mungkin karena kekuatan perasaan batin seorang anak. Namun demikian, Wanda tidak segera menunjukan ketidakpuasannya itu.

Bergantinya hari demi hari ternyata tidak membuat lelaki tersebut terlepas dari kebiasaannya yang sering melamun. Wanda yang diam-diam terus memperhatikan keganjilan tingkahlaku lelaki itu, semakin merasa iba melihatnya.

Untuk yang ketiga kalinya Wanda mendapat jawaban yang sama ketika dirinya bertanya mengenai sikap dan perilaku papanya. Wanda semakin yakin, bahwa papanya berbohong.
“Mungkinkah papa kesepian, karena hampir dua tahun dirinya hidup tanpa seorang pendamping semenjak meninggalnya mama. Jadi papa...,” kata hatinya. “Mungkinkah papa..... Tapi.....” Wanda terus bertanya-tanya dalam hatinya hingga ia sendiri merasa cemas. Cemas apabila kini yang dialami papanya ternyata memang seperti yang dipikirkan gadis itu.

Karena Wanda pun semakin merasa iba melihat papanya yang suka murung dan terkadang menyendiri, Wanda akhirnya mencoba mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.

“Papa jangan berbohong terus deh, sama Wanda. Ada apa sih, sebenarnya hingga sudah seminggu ini papa sering terlihat murung dan melamun ?” desak Wanda. “Papa kesepian, ya ?”

“Ah tidak !” jawabnya seperti tersentak.

“Sudah deh, Pa ? Jangan ngebohongin Wanda terus. Kata papa kita tidak boleh berbohong. Dosa !” tegas Wanda. Sementara itu papanya terlihat menarik napas panjang seperti merasakan suatu beban.

“Benar kok, papa nggak apa-apa. Hanya masalah pekerjaan di kantor,” kilahnya datar.

Wanda tetap tidak percaya ucapan orang tuanya. Ia terus mendesak papanya dengan perkataan yang sempat membuat orang tua tersebut terkejut.

“Papa pasti kesepian ya setelah ditinggal mama. Papa juga pasti butuh perhatian ya…mungkin papa….”

“Mungkin apa ?” tanya orang tua itu penasaran.

“Mungkin perlu ada yang ngurusin papa.”

“Maksud Wanda ?” ujar lelaki itu seperti berpura-pura tidak mengerti. Sedangkan Wanda melihat adanya perasaan senang yang terpancar dari sorot mata papanya.

“Wanda nggak keberatan, kok, jika Wanda punya mama baru,” pancing Wanda. Mendengar ucapan Wanda seperti itu, kontan saja sang papa terlihat begitu bersemangat menanggapinya.

“Apa Wanda rela jika papa menikah lagi dan Wanda punya mama tiri,” katanya dengan pancaran mata berbinar penuh harap memandangi wajah Wanda. Wanda pun menangkap pancaran itu dan ia semakin tergugah untuk segera mengiyakannya. Meskipun sebenarnya, jauh dilubuk hatinya, Wanda merasa belum siap menerima wanita yang akan menggantikan peran mama kandungnya.

“Wanda rela, kok, Pa?” ucapnya pelan.

“Syukurlah kalau memang begitu. Sebenarnya papa sudah punya calon yang akan menjadi mamamu. Namun papa belum berani mengenalkannya pada Wanda. Ia wanita yang baik, dan papa yakin ia pun dapat memberimu kasih sayang. Tapi karena sekarang Wanda.... Nanti papa kenalkan deh. Sebab sudah lama calon mamamu itu ingin mengenal Wanda,” jelasnya dengan penuh semangat.

Sebulan kemudian, Wanda harus menerima kenyataan bahwa kini ia telah mempunyai mama baru. Awalnya ia cukup senang dengan kehadiran wanita tersebut. Namun tak lama kemudian, kehadiran Restu, mama tirinya itu, menimbulkan adanya perasaan lain di hati Wanda. Nampaknya anak gadis itu cemburu dengan adanya Restu di tengah-tengah keluarganya. Keberadaan mama tirinya, membuat Wanda merasa papanya kini lebih memperhatikan wanita tersebut daripada dirinya. Akibatnya, Wanda sering teringat mama kandungnya yang telah tiada dan kembali larut dalam lamunan dan kesedihan.

“Ma…Wanda kangen sama mama. Kenapa mama cepat-cepat ninggalin Wanda. Ma, Wanda kangen sama mama…,” ujar Wanda dengan suara tersedu-sedu sambil memandangi potret mamanya yang terpampang di dinding kamarnya. Sementara itu setetes demi setetes air matanya membasahi pipi gadis cilik nan cantik ini.

Rasa cemburu pada mama tirinya dan rasa kesal terhadap papanya membuat Wanda bingung apa yang harus dia perbuat. Sedangkan dirinya tidak berani mengungkapkan perasaan tersebut pada mereka termasuk pada papanya. Wanda menyadari, keberadaan Restu di tengah-tengah keluarga itu juga karena tawarannya. Selain itu Wanda pun tidak ingin papanya tersinggung dengan ucapannya.

Wanda hanya bisa memendam perasaannya, sehingga batinnya merasa tersiksa. Akibatnya tak jarang ia mengekspresikan perasaannya itu dengan sikap yang dapat menimbulkan kejengkelan bahkan kemarahan bagi orang tua manapun yang tidak mampu bersikap bijaksana dalam menghadapinya. Untungnya, Restu dapat dikatakan termasuk wanita yang cukup bijaksana, sehingga tidak terlalu sulit baginya dalam menghadapi sikap-sikap Wanda itu. Dia menyadari, jika dirinya mencintai papanya Wanda dan bersedia menjadi istrinya, maka sudah menjadi kewajibannya untuk menganggap dan memperlakukan Wanda seperti anaknya sendiri.

“Ada apa sayang ? Apa ada yang salah dengan sikap mama selama ini ? Katakanlah, mama nggak bakal marah, kok,” sapa Restu sambil membelai rambut anak perempuan yang tengah cemberut itu.

Meskipun berulangkali Restu bertanya, Wanda tetap bungkam. Bahkan terkadang ketus dalam menanggapinya. Namun sebagai seorang ibu yang penuh perhatian dengan naluri keibuannya, akhirnya Restu dapat memahami apa yang dirasakan Wanda. Dia merasa tidak sampai hati melihat Wanda yang terombang ambing dengan perasaannya.
“Pa ? Sepertinya Wanda belum sepenuhnya menerima kehadiran mama disini. Memang, awalnya sih, mama melihat Wanda mencoba untuk dapat menerima kehadiran mama. Namun kini dia tidak bisa melawan perasaannya sendiri. Sebab sepertinya Wanda belum siap benar menerima mama sebagai pendamping papa, sebagai mama tirinya,” jelas Restu. “Wanda cemburu, Pa ? Mama yakin itu. Mungkin karena kasih sayang dan perhatian papa kini harus terbagi sama mama,” lanjutnya.

“Sebenarnya papa juga sempat melihat adanya keanehan dengan sikap Wanda akhir-akhir ini,” ujar suaminya.

“Demi kebaikan Wanda, untuk sementara Waktu sebaiknya mama tinggal dulu sama orang tua di Bogor. Toh, dari Jakarta sini masih bisa terjangkau kalau ada apa-apa. Mama tidak ingin kehadiran mama hanya akan membuat batin Wanda terus tersiksa. ”

Walaupun lelaki itu mempercayai ucapan sang istri, namun ia tetap bermaksud mempertanyakannya pada Wanda. Berkali-kali orang tua itu bertanya pada Wanda, namun anak itu tetap diam seribu bahasa. Bahkan ia lebih memilih bergegas ke kamarnya dan mengunci diri. Lelaki itu merasa kebingungan dengan sikap anaknya hingga akhirnya ia menyetujui usul istrinya, agar untuk sementara waktu Restu meninggalkan rumah itu.

Benar saja. Setelah Restu meninggalkan rumah tersebut wajah Wanda tidak lagi terlihat cemberut dan mengunci diri di kamar. Namun keadaan ini tidaklah berlangsung lama. Sebab ketika papanya kian sibuk dengan pekerjaan kantornya yang sering diselesaikan di rumah, bahkan tak jarang pula harus ke luar kota, membuat Wanda sering kesepian. Sedangkan Bi Minah dan Mang Udel pembantu di rumah itu yang berusaha menghiburnya, tidak mecairkan rasa kesepian Wanda. Begitu pula dengan kehadiran kakek-neneknya yang pada waktu-waktu tertentu sempat mengunjunginya.

Larutnya Wanda dalam perasaannya itu membuat dirinya tiba-tiba sering teringat pada perhatian dan kasih sayang Restu. Dia sering terbayang ciuman mama tirinya itu pada pipi dan keningnya saat akan pergi sekolah dan menjelang mau tidur. Wanda pun tak lupa dengan kesabaran wanita tersebut dalam menghadapi sikapnya yang sering menjengkelkan. Sepertinya kini Wanda merindukan Restu, mama tirinya.

Karena batinnya merasa tersiksa akibat terus menerus memendam perasaan tersebut, maka Wanda memantapkan niatnya dan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada sang papa.

Suatu ketika dia mencoba menghampiri papanya yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk kembali ke luar kota selama beberapa hari karena tugas dari kantornya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Wanda teringat dengan sikapnya pada hari-hari terakhir menjelang kepergian Restu. Ia yakin, papanya pun tahu bahwa karena dirinyalah mama tirinya itu terpaksa mengalah sehingga ia pergi dari rumah itu.

Cukup lama Wanda berdiri mematung. Ia merasa malu dengan sikap-sikapnya selama ini. Namun Wanda mencoba untuk meneruskan langkahnya walaupun kebimbangan hati menggelayuti. Padahal jarak untuk sampai ke papanya yang tengah duduk, sibuk dengan memasukan berkas-berkas ke dalam kopernya tinggal hanya sekitar tiga atau empat langkah lagi.

“Papa...! Wanda kangen sama mama Restu !” katanya setengah berteriak. Papanya langsung terperanjat, kemudian menoleh kebelakang, ke arah anaknya.

“Wanda kangen sama Restu,” sambungnya dengan suara melemah. Orang tua itu kemudian tersenyum lalu menghampiri Wanda dan memeluk anak gadis itu yang masih berdiri mematung.


Bogor, 16 Oktober 2004

Ketidakpuasan Seorang Perempuan Pelacur

Sopian Muhammad


Setelah sang suami pergi entah kemana bersama seorang perempuan lain, Sumilah Darodosa harus menghidupi sendiri kedua anaknya yang masih kecil-kecil, dan seorang ibunya yang sudah mulai renta. Bahkan setiap bulannya dia pun harus membayar rumah kontrakan yang meskipun kecil dan sangat sederhana, namun terasa berat bagi Sumilah untuk membayar setiap bulannya.

Guna memenuhi segala kebutuhan itu, Sumilah menjadi pembantu di sebuah keluarga yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dengan kontrakan tempat tinggalnya. Sehingga ia masih bisa pulang pada malamnya untuk mengurus anak-anak dan ibunya. Tetapi ternyata, Sumilah hanya mampu bertahan sekitar satu bulan dari pekerjaannya itu. Sebab dia tidak tahan terhadap perlakuan si majikan laki-laki yang seringkali berbuat kurang ajar terhadapnya terutama ketika istri dan seorang anaknya tidak ada di rumah. Maklumlah, meskipun Sumilah sudah beranak dua, namun usianya masih relatif muda. Apalagi postur tubuh dan wajah Sumilah memang terlihat jauh lebih menarik dibandingkan dengan istri lelaki itu.

Suatu ketika, saat istri dan anaknya tidak ada di rumah, lelaki tadi kembali menggoda dan berbuat kurang ajar terhadap Sumilah. Bahkan kali ini ia berhasil memperkosa Sumilah. Sumilah sendiri tidak berani mengadukan masalah tersebut pada majikan perempuannya, istri lekaki itu, atau pada siapapun. Karena lelaki itu mengancam akan membunuhnya. Sumilah terpaksa memilih menerima sejumlah uang yang diberikan lelaki itu mengingat ia sangat membutuhkannya untuk berobat anak terkecilnya yang sedang sakit.

Setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga, Sumilah kemudian mencoba menjadi tukang cuci pakaian. Didatangilah rumah demi rumah di sekitar tempat tinggalnya yang sekiranya mau menggunakan jasanya. Sumilah merasa bersyukur karena orderan mencuci - termasuk sekalian menyetrikakannya - setiap hari selalu ada. Apalagi, ia pun bisa menerima upah dengan segera setiap kali menyelesaikan pekerjaan itu walaupun nominalnya tidak seberapa.

Pada suatu hari, ketika Sumilah sedang menyetrika pakaian, seorang lelaki yang tinggal di rumah itu mengaku kehilangan uang yang jumlahnya cukup besar. Karena tidak seorang pun merasa mengambil atau menemukannya, maka Sumilah lah yang menjadi sasarannya. Ketika tas keranjang yang selalu dibawa Sumilah digeledah, ternyata sejumlah uang ditemukan di dalamnya, dan jumlahnya pun sama dengan uang yang dianggap hilang tadi. Sumilah merasa, dirinya sengaja dijebak oleh lelaki itu. Sebab menurut Sumilah, si lelaki kurus tersebut sepertinya masih menyimpan dendam. Pasalnya, pada hari sebelumnya, Sumilah berhasil menendang cukup keras kemaluan orang itu saat dirinya berusaha memperkosa Sumilah. Namun demikian, Sumilah tetap tidak bisa membela diri dari fitnah atau jebakan tersebut. Akibatnya saat itu pula Sumilah diusir tanpa dibayar sepeser pun atas pekerjaannya.

Desas desus bahwa Sumilah mencuri uang, akhirnya menyebar ke telinga para tetangga terutama yang menggunakan jasa-jasanya. Karena mereka termakan isu tadi maka mereka pun tidak mau lagi mempekerjakan Sumilah.

“Meskipun saya miskin, saya bukanlah pencuri...,” bela Sumilah dalam menghadapi tuduhan-tuduhan dari mereka.
Sumilah Darodosa kebingunan. Ia tidak tahu lagi pekerjaan apa yang bisa dilakukannya untuk menyambung hidup keluarga. Apalagi pemilik kontrakan yang tidak mau tahu dengan kesulitan yang dihadapinya, sudah berkali-kali menagihnya.

“Maaf Pak Badrig ? Saya masih belum punya uang. Jangankan untuk bayar kontrakan, untuk makan kami saja sangat susah. Maklumlah Pak, keadaan saya seperti ini. Jika Bapak tidak bisa memakluminya, dimana lagi kami harus tinggal ?” keluh Sumilah.

“Saya tidak mau tahu ! Saya kan sudah kasih tempo setengah bulan untuk segera membayar kontrakan ini. Pokoknya kamu harus segera bayar atau pergi meninggalkan tempat ini,” tegasnya dengan intonasi tinggi. “Kecuali...!” sambung lelaki itu sambil berbisik ke Sumilah.

Bagaikan suara petir, Sumilah sangat kaget mendengar bisikan lelaki setengah baya itu.

“Jangan Pak, jangan !” sergah Sumilah seketika dengan raut muka memucat.

“Ayolah, istri dan anak-anakku sedang tidak ada di rumah...,” paksa lelaki berkumis tebal berbadan kekar itu sambil menarik tangan Sumilah.

“Jangan Pak.... saya mohon jangan...,” ujar Sumilah kembali menahan tarikan tangan lelaki tadi.

“Kalau tidak mau, sekarang juga kamu harus meninggalkan kontrakan ini, bagaimana...,” ancamnya.

Sumilah terdiam dengan wajah menyimpan amarah. Sedangkan lelaki itu kembali menarik kuat tangan Sumilah. Merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sumilah pun menuruti ajakan lelaki tersebut. Setelah berada di dalam rumah lelaki tadi, kemudian Sumilah digiring ke kamarnya dan disana dilampiaskanlah nafsu binatang si lelaki pada tubuh perempuan yang batinnya tercabik-cabik itu.

“Kalau begini, kan kamu tidak perlu lagi melunasi kontrakan bulan ini !” ujarnya.

Hari terus berganti. Di tengah penderitaan lahir dan batinnya, Sumilah Darodosa tetap masih kebingungan untuk melanjutkan kelangsungan hidup keluarganya. Apalagi, habis bulan tinggal beberapa hari lagi dan ia harus segera mempersiapkan sejumlah uang untuk membayar kontrakan. Jika tidak, maka sebagai penggantinya Sumilah harus kembali bersedia melayani nafsu lelaki pemilik kontrakan tadi.

Di saat dirinya merasakan gejolak kebingungan yang begitu hebat, tiba-tiba Sumilah didatangi seorang lelaki yang memberinya saran untuk melacurkan diri. Berkat bujuk rayunya - apalagi ia sendiri merasa tidak ada jalan lain - Sumilah akhirnya terpaksa memilih untuk melacurkan diri. Apalagi, ia merasa, dirinya pun sudah terlanjur ternoda.

Tidak lama kemudian, kabar bahwa Sumilah menjadi pelacur tersebar di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Akibatnya Sumilah pun dihujani berbagai cemoohan. Termasuk cemoohan dari bekas majikan atau pemilik kontrakan yang pernah memperkosanya serta orang-orang yang memfitnah dirinya sebagai pencuri.

“Dasar perempuan kotor !”
“Perempuan najis !”
“Perempuan hina !”
“Perempuan tidak bermoral !”

Begitulah antara lain cemoohan yang menghujam ke dalam batin Sumilah. Cemoohan yang menyayat hati dan meninggalkan goresan luka yang sulit disembuhkan. Namun demikian, Sumilah berusaha sabar menghadapinya demi kelangsungan hidup dirinya, anak-anaknya, serta sang ibu yang dikasihinya.

“Kalaupun demi nafkah keluarga, pelacur tetap saja pelacur ! Yaitu perempuan yang tidak lagi memiliki harga diri.”

Demikian diantaranya nada cemoohan lain yang ditujukan pada Sumilah.

***
Sumilah merasakan, bahwa sebutan “pelacur” seakan sudah merupakan predikat yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan sebutan (lain) bagi perilaku tidak bermoral lainnya.

Perasaan Sumilah seperti itu bisa dipahami. Apalagi istilah “pelacur” sesungguhnya bisa diidentifikasikan bagi perilaku tidak bermoral lainnya tanpa melihatnya dari jenis “kelamin” (perempuan) dan jenis “pekerjaannya” (menjual tubuh). Termasuk juga dapat ditujukan kepada para pemerkosa ataupun orang yang memfitnah dirinya tadi. Sebab, makna pelacur tidak hanya terbatas pada tinjauan biologis, tetapi juga sudah mencakup pada tataran makna filosofis yang lebih luas.* Dengan demikian, korupsi, kolusi, manipulasi, serta melakukan “sisi-sisi” lain yang mengeksploitasi nafsu atau ambisi, juga merupakan sisi lain dari pelacuran. Jadi, para pelakunya pun pantas disebut “pelacur”. Terkait dengan itu, Sumilah merasakan ketidakadilan dama masalah ini.

“Bukankah dengan demikian sebutan ‘pelacur’ juga pantas ditujukan pada mereka yang mencemoohku ? Sebab yang kutahu, diantara mereka yang mencemooh kepelacuranku adalah pemerkosa, tukang fitnah, penipu, rentenir, serta pelaku perbuatan tercela lainnya,” tegas Sumilah.

Tanpa bermaksud membela Sumilah, dalam hal tertentu sepertinya perempuan yang menjual tubuhnya masih lebih baik dengan pemerkosa, tukang fitnah, penipu, rentenir, termasuk pelaku korupsi, kolusi, manipulasi, dan sisi lain yang mengeksploitasi nafsu ambisi tadi. Sebab “pelacur” yang menjual tubuhnya seperti Sumilah, yang “dikorbankan” adalah dirinya. Sedangkan pemerkosa, tukang fitnah, penipu, rentenir, koruptor, kolutor, manipulator, dan perbuatan kotor lainnya, yang “dikorbankan” adalah orang lain. Orang banyak. Bahkan rakyat dan negara.

Selain itu, pemerkosa, tukang fitnah, penipu, rentenir, koruptor, kolutor, manipulator, dan perbuatan kotor lainnya adalah segala perbuatan yang cenderung didasari nafsu. Pemerkosa didasari nafsu birahi. Penipu didasari nafsu amarah, rentenir, koruptor, kolutor, manipulator, cenderung dilandasi nafsu keserakahan. Sedangkan melacurkan diri seperti yang dilakukan Sumilah, murni dikarenakan “keterpaksaan”. Konon, banyak perempuan yang melacurkan diri (menjual tubuhnya) juga karena terpaksa. Yang jelas, orang semacam Sumilah, harus mendapat “perhatian”. Dia tidak pantas diperlakukan secara tidak adil. Termasuk ketidakadilan stigma dalam memahami makna sesungguhnya dari “pelacur”. Ketidakadilan dari pandangan masyarakat umum dalam memandang ‘perempuan pelacur’. Karena itulah ia tidak saja merasa marah terhadap orang-orang di sekitar yang mencemooh dirinya, tetapi juga marah karena ketidakadilan dalam pandangan masyarakat. Namun marah yang hanya bisa dipendam dan diungkapkan lewat kata-kata. Meski kata-kata itu, dia sendiri yang mendengarkannya.

Apakah karena dia seorang perempuan yang sudah terlanjur dianggap hina ?

***

Berkenaan dengan ketidakadilan yang dirasakan dan dialaminya, Sumilah pun seakan ingin menyatakan ketidakpuasannya terhadap para penegak hukum yang dinilainya diskriminatif. Sebab perempuan seperti dirinya (pelacur) seringkali “ditertibkan”. Sedangkan para “pelacur” lain uatamanya seperti koruptor, kolutor, manipulator, justru sulit tersentuh. Baik yang terjadi di lingkungan warga sekitar tempat tinggalnya, apalagi yang berada di kursi pemerintahan.

Dalam merespon keluh kesah dan ketidakpuasannya itu, Sumilah seperti ingin mempertanyakan ;

“Dimanakah keadilan itu ?”

“Mungkinkah kondisi ini terjadi karena para penegak hukumnya pun sudah banyak yang menjadi ‘pelacur’ ?”

“Bisakah pelacur menertibkan pelacur ?”

Ada hal menarik lainnya yang bisa dijabarkan dari keluh kesah dan ketidakpuasan seorang perempuan yang bernama Sumilah Darodosa itu. Dia memang tidak pandai berkata-kata. Namun ia ingin sekali mengungkapkan bahwa, apabila para perempuan seperti dirinya harus ‘ditertibkan’, maka semua perilaku tidak bermoral lainnya juga harus ditertibkan. Bahkan, justru para ‘pelacur’ yang berada dibalik kursi pemerintahan atau kekuasaanlah yang terlebih dahulu harus ‘ditertibkan’. Dengan kalimat lain, Sumilah seolah ingin menegaskan ; ibarat membersihkan rumah, maka bagian ataslah yang seharusnya dibersihkan lebih dahulu.

Dari ungkapan itu, muncullah suatu asumsi bahwa, justru akibat dari kepelacuran para pejabat dan penegak hukumlah sehingga negara ini mengalami krisis ekonomi dan kepercayaan. Sedangkan krisis ini, telah melahirkan banyak warga untuk melacurkan diri dengan berbagai bentuk atau jenisnya. Padahal, perilaku para penegak hukum maupun pejabat yang “melacurkan” diri - menjual hukum ataupun kewenangannya - seolah merupakan suatu rangkaian kata-kata yang menggelorakan semangat untuk melacurkan diri secara massal di tengah kondisi sosial ekonomi budaya yang kian tidak menentu ini.

Sumilah nampaknya hendak mengungkapkan bahwa, tanpa merasa berdosa, mereka justru berbicara seperti orang-orang suci ; bicara tentang kebenaran : kejujuran dan keadilan. Bahkan, mereka seperti tidak memiliki rasa malu dengan menyebut perempuan yang menjual tubuhnya sebagai sampah kotor yang hina dina, sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Padahal, mereka lah yang lebih kotor sehingga mereka pun layak disebut sampah masyakat bahkan sampah negara yang harus segera dienyahkan.

“Janganlah berbicara kepada kami tentang kebenaran : kejujuran dan keadilan. Sebab bagi kami : kejujuran mereka (terutama pejabat dan penegak hukum tadi - pen) adalah kebohongan, dan keadilan mereka adalah kelicikan.” Kira-kira seperti itulah yang ingin diungkapkan Sumilah.

Apabila Sumilah begitu antipati tentang kebenaran : kejujuran dan keadilan yang keluar dari mulut-mulut para pejabat dan penegak hukum semacam itu, apakah karena dirinya merasa lebih jujur dan lebih adil ?

Sumilah, tidak berani mengatakan bahwa dalam permasalahan ini dirinya lebih jujur dan adil. Namun Sumilah, bisa memperlihatkan kejujuran dan keadilan dalam dirinya.

Kejujuran Sumilah, atau mungkin perempuan lainnya yang disebut ‘pelacur’, karena dia/mereka menyadari dan mengakui kepelacurannya, serta sadar akan kehinadinaan dirinya. Keadilan dia/mereka sebagai pelacur, karena dia/mereka rela menerima cercaan dan cemoohan dari masyarakat meskipun cemoohan itu cenderung diskriminatif.

Bagaimana dengan mereka, para ‘pelacur’ yang menjual kejujuran dan keadilan (pejabat dan penegak hukum – pen) ? Rasanya tidak akan sejujur atau seadil para perempuan ‘pelacur’ dalam menilai dirinya dihadapan masyarakat.

Begitu juga dengan pemerkosa, tukang fitnah, penipu, renten, koruptor, kolutor, manipulator, juga tidak akan jujur dan adil seperti dirinya. Bagaimana mereka bisa jujur dan adil dengan apa yang dilakukannya ? Apalagi untuk mengakui dan menyadari bahwa mereka pun adalah ‘pelacur’.

Sumilah ingin menambahkan, bahwa kalaupun para perempuan yang disebut pelacur ini seringkali terlihat tertawa-tawa, sesungguhnya tidak jarang hati mereka merasakan kepiluan, kesedihan dengan hidup yang dialaminya. Sedangkan tertawa-tawanya para pemerkosa, tukang fitnah, penipu, renten, koruptor, kolutor, manipulator, termasuk para pejabat dan penegak hukum kotornya, bisa dipastikan karena didasari rasa senang, rasa puas.

***

Sumilah, harus puas dengan ketidakpuasannya yang sebatas nada protes dan gugatan.
“Siapa sih yang mau mendengarkan apalagi membela orang yang sudah terlanjur dianggap kotor, najis, dan hina dina seperti aku ?” Mungkin seperti itulah yang ingin diungkapkannya

“Sepertinya, hanya Tuhan lah yang benar-benar memahami perasaanku,” ujar Sumilah dengan nada lemah.

Suatu ketika Sumilah memanjatkan do’a yang bernada kegelisahan, kekecewaan, sekaligus pemujian yang bercampurbaur dengan nada-nada protes terhadap Tuhan.

“Ya Tuhan, Engkau mengetahui betapa terpaksanya aku menjalani hidup sebagai pelacur. Betapa tersiksanya batinku karena itu ?” rintih Sumilah.

“Ya Tuhan, aku memang wanita tuna susila. Tapi aku bukanlah wanita tuna netra yang tega melihat kemelaratan dan kelaparan hidup ibuku dan anak-anakku....”

“Berikanlah aku kekuatan untuk segera mengakhiri kepelacuranku....”

Begitulah antara lain penggalan dari do’a panjang si perempuan pelacur Sumilah Darodosa.

Pikirannya, Kebanggaannya,Otak Busuknya

Sopian Muhammad


Sebagai seorang pengusaha, dia selalu mencurahkan pikirannya demi kemajuan usahanya. Bahkan hari libur pun seringkali dimanfaatkan untuk memikirkan agar perusahaannya itu semakin maju. Bahkan diusianya yang tidak lagi tergolong muda itu, ia tidak mau memikirkan untuk segera beristri dan beranak pinak, serta tentunya untuk segera bertobat. Sebab baginya, istri hanyalah sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis. Karena itulah ia memilih tidak beristri sehingga lebih bebas berganti-ganti perempuan yang diinginkan. Sedangkan anak, dianggapnya sebagai pembawa beban kehidupan. Adapun tobat, menurut lelaki itu adalah suatu sikap yang didasari kedunguan manusia akan adanya dosa dan neraka. Begitulah pikiran seorang laki-laki yang bernama Sasongko Mangansato. Baginya, yang terpenting dalam hidup adalah memikirkan agar bisnisnya itu mengalami kemajuan secara terus menerus sehingga keberadaan dirinya dalam pandangan status sosial kian diperhitungkan.

“Totalitas berpikir seorang pebisnis menjadi faktor teramat penting dalam menentukan nasib suatu perusahaan. Sebagai pemilik perusahaan, tentu aku harus berusaha seoptimal mungkin dalam memutuskan sesuatu agar perusahaanku selalu dalam keadaan untung. Sekalipun orang-orang menganggap keputusan itu bukan suatu hal yang bijaksana. Apalah arti sebuah kebijaksanaan apabila keputusan tersebut dapat merugikan perusahaan. Sebab dalam berbisnis semuanya harus berorientasi pada profit atau keuntungan,” tegas Sasongko.

Selama ini, Sasongko memang selalu bangga dengan pikiran-pikirannya. Baginya, berpikir untuk kemajuan perusahaan, jauh lebih penting daripada berpikir untuk meyakini keberadaan Tuhan. Apalagi, sampai menggantungkan hidupnya pada Dia.

“Berpikir itu membuahkan pengaruh yang maha besar, melebihi apapun atau siapapun. Termasuk melebihi keyakinan terhadap kemahabesaran Tuhan. Berkat kemampuanku berpikir, aku mampu mempengaruhi pesaing-pesaing bisnisku sehingga perusahaan-perusahaanku selalu diuntungkan. Dengan hasil berpikirku, aku juga dengan mudah mempengaruhi bawahan dan karyawan-karyawanku agar mereka selalu mementingkan kemajuan perusahaan. Jika mereka tidak bersedia, atau malah membangkang, tinggal pecat saja tanpa perlu memberikan pesangon. Caranya gampang ! Gunakan pikiran untuk mensiasatinya. Pasti selalu ada jalan keluar yang menguntungkan. Apalagi, masih terlalu banyak penganggur di negeri ini yang antri untuk mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.

“Kemampuan berpikirku memang luar biasa. Aku memang memiliki otak yang brilian, jenius. Aku mampu menyulap dari sesuatu yang ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dari yang seharusnya rugi menjadi untung. Persetanlah kalau itu disebut korupsi, manipulasi, atau sisi-sisi lain yang dianggap sebagai bentuk dari ekspolitasi ambisi. Sebab semua itu tujuannya sudah relevan dengan tujuan berbisnis : mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Apalagi, ambisi, adalah ruh yang turut menentukan keberhasilan dalam berbisnis.”

“Di samping itu, guna melanggengkan usaha-usahaku, dengan sedikit berpikir dan uang, aku mampu menjadikan para penegak hukum sebagai anjing-anjing penjaga pintu-pintu perusahaanku. Sedangkan diantara para pejabatnya, mereka aku jadikan sebagai satpam yang memperkuat pengamanan bisnisku,” tambah Sasongko dengan pongahnya.

Bila lelaki itu begitu bangga dengan pikiran-pikirannya, di satu sisi sepertinya memang beralasan. Sebab berkat hasil pemikiran-pemikirannya juga, dalam beberapa tahun saja Sasongko sudah memiliki sejumlah perusahaan yang semuanya sudah cukup maju. Bahkan kabarnya, kini dia tengah mempersiapkan mendirikan dua perusahaan lagi.
Berkat prestasinya yang dianggap luar biasa dan jasa-jasanya dalam memberikan kontribusi yang besar guna mengurangi jumlah pengangguran, kabarnya Sasongko akan dianugerahi penghargaan dari presiden republik bagong ini.

“Itu semua berkat mengoptimalisasikan pikiranku ha ha ha...,” tandasnya dengan bangga. Sementara itu perut buncitnya terlihat menari-nari.

“Selamat ya, Bos ! Bos memang luar biasa. Bahkan presiden pun akan memberikan penghargaan atas keluarbiasaan Bos,” ujar salah satu bawahannya yang suka menjilat itu.

“Siapa dulu dong, aku..... Sasongko ! Ha ha ha...,” katanya sambil mengelus-elus dasi bermotif ular yang menggantung di lehernya.

“Saya salut sama Bos...,” lanjut bawahannya tadi.

“Sebenarnya, aku tidak peduli dengan banyaknya pengangguran di republik ini. Kalaupun jumlah penganggur katanya turut berkurang berkat berdirinya sejumlah perusahaanku, namun aku tidak pernah berniat mengurangi jumlah pengangguran. Aku hanya memanfaatkan tenaga mereka dengan mengeluarkan upah yang sebetulnya minimal. Padahal sebenarnya, aku bisa saja memberikan upah secara lebih layak kepada mereka. Sebab perusahaan-perusahaanku memperoleh untung yang sangat berlebih berkat menggunakan tenaga mereka.

Setelah dianugerahi penghargaan dari presiden, apalagi peristiwa tersebut diliput oleh berbagai media massa, nama Sasongko kian populer. Hal ini mengundang rasa kagum dari masyarakat termasuk sebagian pengusahanya. Namun bagi mereka yang mengetahui siapa sesungguhnya Sasongko Mangansato, justru mereka mencemoohnya.
“Masak, penipu macam si Sasongko mendapat penghargaan !”
“Seharusnya, penghargaan yang tepat untuk Sasongko adalah penghargaan atas prestasinya sebagai pembohong, penipu, dan penjilat ulung !”

“Kok, bisa-bisanya penghargaan itu jatuh ketangannya....”

Begitulah antara lain nada-nada ketidaksenangan dan cemoohan yang ditujukan pada Sasongko.

Prestasi dan kepopuleran Sasongko yang dianugerahi penghargaan dari presiden, semakin memperkuat kedudukan dirinya dan perusahaan-perusahaannya dalam pentas bisnis nasional. Sehingga Sasongko pun lebih leluasa dalam merealisasikan hasil dari pikiran-pikirannya untuk terus memajukan dan memperluas jaringan bisnisnya.

Beberapa hari kemudian, Sasongko diundang oleh salah satu televisi siaran sebagai tamu dalam acara “Bisnis dan Tokoh”.

“Pak Sasongko, bagaimana kiat Anda dalam menumbuhkembangkan suatu usaha hingga menjadi besar,” tanya si pembawa acara.

“Dalam bisnis, cuma ada satu orientasi tertinggi yang harus diutamakan, yaitu ke-un-tung-an-be-sar. Ingat itu ! Sedangkan caranya gampang saja. Pandai-pandailah menggunakan ini,” katanya sambil menunjuk-nunjuk jidatnya. Sasongko melanjutkan, “Jadi, tidak cukup dengan menerapkan prinsip ekonomi : mengeluarkan biaya sekecil-kecilnya untuk memperoleh untung sebanyak-banyaknya. Tetapi jika memungkinkan tidak perlu kita mengeluarkan biaya namun keuntungan tetap bisa diraih. Nah, yang kedua inilah sesungguhnya prinsip ekonomi yang paling canggih. Caranya, yaitu tadi, pandai-pandai menggunakan otak. Dasarnya adalah apapun dilakukan untuk memperoleh keuntungan itu. Gampang, kok !” jawabnya menggebu-gebu.

“Anda baru saja mengatakan, bahwa apapun dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Apakah dalam berbisnis Anda tidak menerapkan etika dan norma-norma hukum ?”

“Oh, bukan itu maksudku ha ha ha.... Tentu saja kita harus menggunakan etika dan norma-norma hukum, dan dunia bisnis memiliki etika serta norma-norma hukum sendiri yang tentu saja harus berpihak pada keuntungan. Ingatlah itu ha ha ha....,” ucapnya bias.

“Sebagai manusia yang baik, bukankah kita harus beretika ? Dan sebagai warga yang baik, bukankah seharusnya kita pun mentaati norma-norma hukum ?” ujarnya berapologi.

“Sebelumnya Anda menyinggung pentingnya menggunakan otak. Dan nampaknya Anda begitu bangga dengan otak Anda,” kata si pembawa acara.

“Oh itu sudah pasti. Kalau saya tidak memiliki otak yang canggih, tentu saya tidak akan sehebat ini. Maksud saya, tidak akan seperti sekarang ini, ehmm...,” kata Sasongko sambil membetulkan dasinya. Lanjutnya, “Otak adalah penentu diri seseorang. Otak lah yang menyebabkan seseorang seperti udang atau keledai....”

“Termasuk yang menyebabkan seseorang seperti ular, kan ? Artinya dia menjadi jahat. Begitu, kan ?” potong pembawa acara itu.

“Ya, banyak orang bicara tentang pentingnya kebaikan, tetapi sesungguhnya hatinya jahat. Dia nampak tenang dan begitu meyakinkan dengan pernyataannya, namun dari mulutnya mengandung bisa,” jelas Sasongko sambil memutar ke kiri-ke kanan kursi yang tengah didudukinya.

“Anda seperti itu ?”

“Apakah saya termasuk orang yang senang mengumbar atas nama kebaikan ? Tentu tidak, kan ?” Sasongko berdalih.

“Menurut kabar, ada sejumlah pengusaha yang tidak senang dengan permainan bisnis Anda. Anda dianggap curang dan....”

“Ah tidak benar itu ! Saya rasa, sikap yang demikian biasanya terlontar dari mulut-mulut yang kalah dalam persaingan bisnis. Mereka itu iri dengan prestasi saya. Mereka iri dengan kemajuan bisnis saya. Anda, kan tahu, kalau saya dianugerahi penghargaan oleh presiden. Jika bukan karena prestasi dan kebaikan saya sebagai warga negara, tentu saya tidak akan dianugerahi penghargaan tersebut, bukan?”

“Perlu diingat, dalam berbisnis sesungguhnya tidak ada istilah curang, yang ada adalah istilah kalah atau memang, rugi atau untung, maju atau mundur, hidup atau matinya perusahaan, dan sejenisnya. Harus diingat pula, berbisnis itu seperti halnya berperang. Sama-sama harus memperhatikan strategi SWOT. Jelas kan ?” papar Sasongko.

“Jadi Anda tidak peduli dengan adanya kecurangan yang anda lakukan.”

“Oo bukan begitu ! Lagi pula, itu kan baru kabar burung yang tidak jelas asal-usulnya. Kalau Anda ingin jelas, silahkan tanya pada burung he he he....”

Kata sasongko lagi, “Saya yakin, kabar itu sengaja dihembuskan oleh mereka yang sengaja mau merusak citra saya dan tidak senang dengan kemajuan perusahaan-perusahaan saya. Ya, karena mereka iri dengan prestasi dan keberhasilan saya. Iri dengan penganugerahan yang diberikan presiden terhadap saya. Iri karena saya pun kemudian mendapat posisi penting dalam organisasi induk perusahaan nasional. Kalau pun tadi saya mengatakan bahwa dalam bisnis tidak ada istilah curang, karena bisnis berorientasi pada keuntungan. Sedangkan curang tidaknya seseorang dalam menjalankan bisnisnya tentu tinjauannya adalah etika dan norma-norma hukum tadi. Sedangkan tadi saya sudah katakan, bahwa sebagai manusia dan warga negara yang baik kita harus beretika dan mentaati norma-norma hukum. Anda paham kan ? Ha ha ha...” Demikianlah Sasongko bermain kata-kata.

“Jadi Anda merasa tidak berbuat curang dalam menjalankan bisnis Anda. Bahkan Anda menganggap diri Anda sebagai manusia dan warga negara yang baik, yang beretika, dan taat hukum ?” desak sang pembawa acara.

“Jika saya berbuat curang dalam berbisnis, jika saya mengabaikan etika dan norma-norma hukum, tentu saya tidak akan dianugerahi penghargaan dari presiden. Iya, kan ? Cobalah gunakan otak Anda itu,” kata Sasongko sambil menunjuk ke arah jidat si pembawa acara.

“Kalau bicara soal otak, saya jadi teringat mengenai penjual otak...,” terang lelaki pembawa acara.

“Maksud Anda penjual otak otak ?” kejar Sasongko.

“Bukan, tapi cerita mengenai penjual otak manusia.”

“Apa benar ada penjual otak manusia. Aneh-aneh saja Anda ini...,” lanjut Sasongko sambil mengkerutkan keningnya.

“Sebenarnya saya tidak peduli apakah cerita itu benar atau tidak. Sebab ini hanyalah sebuah cerita. Tapi yang membuat saya tertarik adalah adanya cerita ini. Cerita tentang penjual otak manusia. Tokoh dalam cerita itu menjual otak yang diambil dari manusia-manusia yang matinya dalam keadaan baik. Seperti mati ketika beribadat atau saat berbuat kebajikan. Kemudian otak-otak itu dijual, karena diyakini bahwa otak - otak tersebut akan sangat baik menggantikan otak manusia yang sudah terlanjur kotor. Jadi otak manusia yang sudah kotor, bejat, bisa dibedah dan digantikan oleh otak yang berasal dari kepala orang-orang baik yang sudah meninggal. Harganya sangat mahal. Saya yakin, anda mampu membelinya. Anda tertarik untuk mendengar lebih jauh inti dari cerita ini ? ”
“Karena saya menggunakan otak, tentu saja yang tidak tertarik. Seharusnya Anda pun menggunakan otak Anda karena Anda telah menghambur-menghamburkan waktu saya dengan cerita yang tidak ada gunanya itu,” jelas Sasongko.
“Justru saya merasa perlu menceritakannya setelah mulai mengenal Anda,” belanya.
“Ha ha ha, Anda benar-benar tidak menggunakan otak. Justru presiden menganugerahi penghargaan kepada saya karena kehebatan otak saya. Atasan Anda pun mengundang saya dalam acara ini, pada dasarnya juga berkat kehebatan otak saya. Jadi, pantaskah Anda mencoba merendahkan otak saya ? Mana bisa ha ha ha....”
“Anda memang hebat....,” kata pemandu acara tersebut.

“Ya, saya tahu itu. Dan saya pun mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam otak Anda mengenai diri saya, ha ha ha....” Lanjutnya, “Begini saja, pembicaraan ini sudah melenceng dari bahasan utama topik ini. Bagaimana kalau kita lanjutkan diskusi sesuai dengan jalur yang telah ditentukan semula. Saya tahu, republik bagong ini menghargai kebebasan warganya untuk berpendapat apa saja. Apalagi kini media-media televisi, termasuk televisi anda, sudah diberi kebebasan menampilkan perdebatan yang sekiranya dapat mendongkrak jumlah penonton sekalipun terkesan kurang atau bahkan tidak beretika. Tapi itulah bisnis, kan?”

Begitulah sepintas penampilan Sasongko Mangansato dalam acara yang berdurasi sekitar tigapuluh menit itu.

Asal tahu saja, awalnya perdebatan semacam itu dianggap tidak etis apalagi jika ditayangkan dalam acara televisi. Namum berkat kebebasan berpendapat, acara semacam itu menjadi biasa ditayangkan di semua televisi siaran yang ada di republik bagong ini. Oh ya, sekedar tambahan, negeri itu disebut negeri bagong karena budaya korupsi di sana sudah mengakar, dan para pimpinan bangsanya pun banyak yang rakus.

Kembali pada Sasongko, ia menyadari benar pentingnya menjaga otak. Agar otaknya senantiasa dalam keadaan optimal, secara rutin Sasongko mengkonsumsi berbagai makanan tambahan yang khusus berkhasiat meningkatkan dan mempertahankan kemampuan kerja dan daya tahan otak. Selain itu dia juga menyadari, bahwa pada saat-saat tertentu, otaknya pun harus diistrirahatkan dan dimanjakan agar kembali fresh.

Seperti pada hari Minggu itu, di taman halaman salah satu rumah mewah miliknya, Sasongko bersantai-santai duduk di sebuah kursi di pinggir kolam ikan hias. Sambil menikmati alunan musik Sebastian Bach yang terdengar dari dalam rumahnya, ia memperhatikan ikan-ikan yang ada di dalam kolam berair bening tersebut.

Tampaknya Sasongko menikmati benar dalam memandangi keindahan berbagai ikan hias yang ada di kolam itu. Ia kemudian turun dari kursinya dan berjongkok menyorongkan kepalanya ke atas permukaan air kolam sambil memperhatikan warna-warni dan gerak-gerik ikan-ikan yang ada di dalamnya. Sesaat, diamati juga bagian depan dan tengah kepalanya yang botak yang terlihat jelas memantul di permukaan air tersebut. Sesekali Sasongko mengelus-elus bagian kepalanya yang botak itu. Tiba-tiba, Sasongko terperanjat dan hampir terjungkal ke belakang, karena seekor ikan arwana yang paling besar, yang berada persis di bawah bayangan kepala Sasongko, menyemburkan air ke kepala lelaki itu.

“Prot !”

“Sialan !” hardik Sasongko.

“Maaf tuan, saya terpaksa menyemburkan air itu karena tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang bau busuk. Bau busuk itu berasal dari kepala tuan,” jelas si ikan.

Sudah pasti Sasongko terheran-heran dengan peristiwa tersebut. Jika tidak mengalaminya, dia sendiri tidak akan mempercayai adanya ikan yang bisa bicara seperti manusia.

Lelaki setengah baya itu sempat merenung mengenai keanehan tadi. Namun ia tidak mau berlarut-larut memikirkan kejadian itu. Sasongko khawatir, apabila terlalu dipikirkan, dirinya akan malas untuk mengoptimalkan kembali pikirannya demi meraih keuntungan dan kemajuan usaha-usahanya.

“Tapi apakah benar yang dimaksud bau busuk dari kepalaku itu adalah otakku ?” tanyanya dalam hati ketika teringat ucapan si arwana.
Sejenak, Sasongko terlihat menciumi telapak tangan yang sebelumnya dielus-eluskan ke kepala botaknya.

Bogor, 09/10/01 - LA, 22/03/06

Maafkan Kakak, Dik!?

Sopian Muhammad


Dengan mimik yang menunjukkan rasa khawatir, seorang wanita langsung mencegat seorang dokter yang baru saja keluar dari pintu ruang unit gawat darurat (UGD).

“Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” sapanya.

“Putri Ibu dalam keadaan kritis mengingat luka yang cukup parah akibat benturan di kepalanya,” jelas dokter itu.

“Tapi, anak kami masih bisa diselamatkan, kan?” kata lelaki yang berada di samping wanita tadi.

“Kita berdo’a semoga anak Bapak dan Ibu bisa tertolong. Untuk sementara ini biarkan kami merawat…siapa namanya….”

“Namanya Hasanah, Dok,” kejar si ibu.

“Ya, kami akan berusaha sekuat tenaga menolong Hasanah,” jawab dokter.

“Apa kami bisa melihatnya sekarang?” pinta si ayah.

“Sebaiknya jangan dulu. Biarkanlah dokter dan para suster di dalam menolongnya,” kata dokter sambil menunjuk ke ruang UGD di belakangnya.

“Permisi saya masih ada tugas lain,” sambung dokter itu yang kemudian meninggalkan kedua orang tua yang masih terlihat cemas dengan keadaan anak mereka.

“Ya Allah...selamatkanlah anak kami,” do’a si ibu dengan suara lirih.

Hampir setengah jam kemudian, seorang dokter lain keluar dari ruangan UGD tempat Hasanah dirawat.

“Bagaimana keadaannya, Dokter?” tanya si ibu lagi dengan rasa penasaran.

“Bapak dan Ibu orang tuanya?” tanya dokter tersebut.

“Ya, kami orang tuanya,” jawab lelaki itu.

“Keadaan putri Bapak dan Ibu masih dalam keadaan kritis. Kami berusaha semaksimal mungkin menolongnya. Karena sekarang sudah larut malam, sebaiknya Bapak dan Ibu beristirahat saja dahulu. Besok pagi baru kesini lagi. Kalau ada apa-apa, kami akan segera memberitahukannya,” saran dokter.

“Tapi, Dok...,” kata si ibu.

“Sudahlah, Mam. Kita ikuti saja saran dokter. Kita pulang saja dulu. Lagi pula rumah kita kan nggak jauh dari sini?” jelas suaminya.

“Ya, sebaiknya begitu. Ibu dan Bapak sebaiknya pulang saja dahulu. Sebab masa kritis putri Bapak dan Ibu sepertinya akan cukup lama,” lanjut sang dokter.

Dengan langkah gontai, kedua orang tua itu akhirnya meninggalkan rumahsakit.

Sekitar limabelas menit kemudian. Mereka sudah sampai di depan suatu rumah yang cukup mewah. Bunyi klakson beberapa kali dibunyikan. Terlihat seorang lelaki pembantu di rumah itu, keluar dari pintu rumah. Kemudian dengan sigapnya ia segera membuka pintu gerbang. Lalu sedan yang dinaiki kedua orang tua tadi masuk dan langsung menuju garasi.

“Mana Defa, apa dia belum pulang lagi?” tanya lelaki itu kepada seorang pembantu tadi.

“Sejak tadi, Neng Defa mengurung diri di kamarnya, Pak,” jawab si pembantu.
Tanpa membuang waktu ia pun menuju kamar Defa.

“Tok, tok, tok.”

“Defa, Defa...,” sahut si lelaki.

“Mungkin Defa sudah tidur, Pa? Biarkan saja,” tegur istrinya yang membuntuti dari belakang.

Di dalam kamarnya, ternyata Defa belum tidur. Ia terlihat gelisah seperti memikirkan sesuatu.

“Apa aku harus cerita sama mereka, bahwa akulah yang telah mendorong Hasanah hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri...? Tidak! Tidak! Mereka pasti memarahiku,” kata Defa dalam hatinya.
:::

Selama ini Defa merasa bahwa orang tuanya selalu mengistimewakan Hasanah. Meskipun usia Hasanah lebih muda dibanding Defa, namun orang tua mereka menganggap, dalam segala hal Hasanah patut dicontoh oleh Defa.

Hasanah memang anak yang berbakti terhadap kedua orang tua. Hasanah juga taat dalam melaksanakan shalat dan ibadah lainnya. Selain itu Hasanah pun pintar dan selalu mendapat juara kelas.

Defa boleh dibilang kebalikannya. Ia suka membantah dan sering bolos sekolah. Pokoknya, sikap dan perilakunya cenderung bertolak belakang dengan sikap dan perilaku Hasanah.

Sikap dan perilaku Defa yang semakin berubah ini terjadi semenjak Defa masuk SMU. Kedua orang tuanya menganggap hal ini terjadi karena pengaruh pergaulan teman-teman di sekolahnya. Sedangkan Hasanah yang memilih melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri, justru semakin menunjukan kedewasaannya.
:::

Suatu hari, kedua orang tuanya protes dengan cara berpakaian Defa.
“Defa, mau kemana kamu dengan berpakaian rok mini dan berbaju ketat seperti itu ?” protes mamanya.

“Defa mau menghadiri ulang tahun temen Mam?” jawab Defa.

“Apa kamu nggak malu berpakaian seperti itu?”

“Nggak, Mam. Inikah pakaian yang sedang trend sekarang?”

“Defa, Defa. Malu lah kamu sama adikmu. Kalau kamu masih belum bisa memakai jilbab seperti adikmu Hasanah, nggak apa-apa. Tapi jangan berpakaian yang terlalu...ah. Sekarang, ganti pakaianmu! Kalau tidak! Papa nggak bakalan ngijinin kamu keluar,” ancam papanya.

“Tapi, Pa?”
“Benar kata papamu. Mama pun tidak mau melihat anak mama berpakaian seperti itu,” lanjut ibunya.
:::

Pada hari yang lain orang tua Defa pernah mendapat telepon teguran dari pihak SMU-nya. Pasalnya selain Defa sering tidak masuk sekolah, ia juga suka membuat ke ributan di kelas serta melanggar peraturan lainnya.

“Tadi mama mendapat telepon dari wali kelasmu di sekolah. Katanya dalam seminggun ini kamu sering tidak masuk kelas dan melanggar disiplin dan tata tertib sekolah. Mama tidak menyangka, kelakuan kamu rusak begitu. Memangnya mau jadi apa kamu !” ujar papanya setengah membentak.

“Papa heran, Mam ? Kok, sekarang anak kita yang satu ini lain sekali dengan sikap adiknya, Hasanah. Hasanah tidak hanya baik di sekolah tapi juga selalu menjadi juara kelas. Tapi, kamu Defa...,” keluh lelaki itu.

***

Dalam hal ibadah, Hasanah pun sering disebut-sebut oleh orang tuanya.
“Kamu, kan sudah dewasa, Defa. Kalau waktunya shalat, shalatlah. Nggak usah disuruh-suruh terus. Lihat dong adikmu Hasanah. Dia selalu menjalankan shalat pada waktunya. Bahkan shalat sunah pun sering dikerjakannya. Apa kamu nggak malu sama adikmu itu,” kata mamanya.

“Sudahlah Mam! Hasanah lagi, Hasanah lagi. Bosan Defa mendengarnya. Bosan, Mam!” sahut Defa dengan kesal.

***
Sementara itu, perasaan Hasanah menjadi tidak enak karena dirinya selalu dijadikan perbandingan oleh kedua orang tuanya ketika mereka memarahi Defa. Akibatnya dia pun sering salah tingkah karena merasa bersalah ketika Defa menunjukan perasaan tidak suka terhadap dirinya. Hasanah merasa tidak tahu, apa yang harus dilakukannya agar Defa tidak membencinya. Ia menyadari, dirinya hanyalah anak angkat yang tidak pantas dilebih-lebihkan dengan Defa, anak kandung mereka.

“Mam ? Pa ? Hasanah mohon, agar nama Hasanah jangan disebut-sebut ketika Mama dan Papa menasehati Kak Defa. Hasanah tidak mau Mama dan Papa melebih-lebihkan Hasanah di depan Kak Defa. Itu nggak baik, Mam, Pa,” kata Hasanah suatu ketika.

Ternyata saran Hasanah seolah menyadarkan mereka bahwa terlalu membanding-bandingkan Hasanah dengan Defa tidaklah bijaksana meskipun tujuannya baik. Mengingat status Hasanah - sebagaimana diketahui Defa - adalah anak angkat di keluarga itu. Sedangkan Defa adalah anak kandung sendiri.

“Ya, papa menyadari, hal ini dapat menimbulkan dampak psikologis yang kurang baik bagi Defa,” jelas papanya.

“Mama sih, berharap, tujuan membandingkan Defa dengan Hasanah, agar Defa bisa lebih dewasa dalam berpikir, Pa ?”

“Papa paham, Ma ? Papa pun tadinya berharap demikian. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata ucapan Hasanah ada benarnya, Mam.”

***

Suatu sore, ketika Hasanah menuju ke kamarnya, secara tidak sengaja ia menemukan sebatang rokok yang tergeletak di luar pintu kamar Defa. Hasanah menyadari jika orang tuanya mengetahui hal itu, pasti Defa lah yang menjadi tersangkanya. Sebab selain rokok tersebut ditemukan di depan pintu kamar Defa, di rumah itu memang tidak ada orang lain yang senang merokok termasuk ayahnya.

Hasanah cepat-cepat memungut rokok itu dan bermaksud membuangnya. Namun kebetulan sekali, ibunya memergoki dan menanyakannya. Dengan kepolosannya, Hasanah pun terpaksa memberitahukan bahwa ia menemukan rokok tersebut di tempat itu.

Setelah ibunya menggeledah kamar Defa, ternyata di laci meja belajarnya terdapat sebungkus rokok yang mereknya sama dengan sebatang rokok yang ditemukan tadi, Sampoerna Mild Menthol.

Defa yang baru saja dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya tidak bisa menyangkal setelah ibunya memperlihatkan sebungkus rokok itu. Ia pun langsung dimarahi dan dihukum dengan mengurangi uang jajannya selama sebulan. Dan tanpa disadarinya, orang tua itu pun kembali membanding-bandingkan Defa dengan Hasanah. Hasanah yang terlanjur berada di tempat itu langsung bergegas ke kamarnya dengan perasaan bersalah.
Semenjak itu kebencian Defa terhadap Hasanah semakin memuncak. Sebab Defa menganggap Hasanah lah yang sengaja mengadukannya. Menurutnya pula, Hasanah pulalah yang selama ini telah membuat dirinya kian tersudutkan.

Malamnya Defa tidak bisa tidur. Ia teringat kejadian tadi sore dan hari-hari sebelumnya ketika kedua orang tuanya memarahi dirinya.

“Lagi-lagi si Hasanah ! Awas, ya ! Akan aku beri pelajaran kamu!” tekadnya.
Suara langkah kaki di tangga yang kebetulan paling dekat dengan kamar Defa terdengar olehnya. Ia lalu membuka pintunya. Terlihat Hasanah sedang menuruni tangga menuju lantai bawah sambil membawa teko plastik kosong. Defa yang sudah diliputi rasa dendam merasa, bahwa itulah saatnya untuk memberi pelajaran pada Hasanah. Defa pun bergegas turun lalu....

“Heh, kalau jalan di tangga buruan. Aku mau lewat !” kata Defa sambil mendorong Hasanah. Hasanah pun terjatuh dan kepalanya membentur ujung pinggir tangga hingga berdarah dan tak sadarkan diri. Defa panik karena ia tidak menyangka kalau dorongannya mengakibatkan Hasanah separah itu. Sedangkan kedua orang tuanya tidak tahu bahwa dirinyalah yang menjadi penyebabnya.

***
Begitulah awal mula kejadian yang menyebabkan Hasanah berada di rumah sakit sehingga kini di kamarnya Defa merasa gelisah, cemas memikirkan keadaan Hasanah yang berada di rumah sakit. Diantara rasa cemasnya, ia teringat dengan sikap baik Hasanah selama ini terhadap dirinya. Mulai dari seringnya Hasanah memberikan Silverqueen kegemarannya, mencuci dan menyetrikakan pakaiannya ketika pembantu pulang kampung, serta sikap mengalahnya jika dirinya menghendaki sesuatu dari Hasanah. Bahkan Hasanah lah orang yang selalu lebih dahulu mengucapkan selamat ulang tahun pada dirinya di rumah itu dan tidak pernah lupa memberinya kado yang disisihkan dari uang jajannya. Sedangkan, Defa, merasa bahwa dirinya belum bisa menunjukan rasa sayang dan perhatiaanya seperti yang ditunjukan Hasanah sebagai adik, walaupun ia adik angkatnya. Cemas dan sesal, itulah perasaan yang sedang berkecamuk dalam diri Defa.

Besok paginya Defa dan kedua orang tuanya pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, perasaan Defa selalu diliputi penyesalan, rasa bersalah sekaligus cemas dengan keadaan Hasanah. Apalagi setelah mendengar ucapan kedua orang tuanya, Hasanah semalam dalam keadaan sangat kritis dan tak sadarkan diri di ruang UGD. Ada gumpalan perasaan takut dalam diri Defa, kalau-kalau Hasanah tidak tertolong atau meninggal dunia.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, ketiga orang itu langsung bergegas menuju ruang UGD tempat semalam Hasanah di rawat.

“Lho, Pak, kok ruangan ini kosong,” tanya orang tual laki-laki itu kepada seseorang yang sedang mengepel ruangan tersebut.

“Iya, Pak ! Tadinya sih, memang ada perempuan yang dirawat disini. Tapi barusan sudah dipindahin,” jelas petugas kebersihan itu.

“Dipindahin kemana, Pak ?” susul istrinya.
“Ya, dipindahin ke ruang mayat. Soalnya dia meninggal dunia,” terangnya.
Betapa terkejutnya kedua orang tua itu. Begitu pula dengan Defa. Tiba-tiba nampak raut kesedihan terlihat di wajah mereka. Sedangkan mamanya langsung menangis dan hampir saja terjatuh jika saja suaminya tidak segera menahan tubuhnya dan membawanya ke ke bangku di ruang tunggu di dekatnya. Air mata Defa pun turut menetes dari kedua bola matanya. Dia kian merasa bersedih sekaligus menyesali perbuatannya. Ia mengutuk dirinya.

“Ini gara-gara aku. Gara-gara aku ! Aku biadaab!” Defa merintih. Ia kemudian berlari meninggalkan kedua orang tuanya.

“Defa, mau kemana?” tegur papanya. Namun Defa tidak mempedulikannya. Ia tetap berlari.

“Ibu dan Bapak orang tuanya Hasanah, kan ?” Tiba-tiba dokter yang kemarin merawat Hasanah menghampiri kedua orang uta itu.

“Betul, Dok,” jawab orang tua lelaki.

“Karena kondisi anak Ibu dan Bapak sudah mulai membaik, malam itu juga kami memindahkannya ke ruang lain. Mungkin dalam sehari lagi dia bisa pulang.”

“Allhamdulillah, terus yang meninggal di ruangan ini siapa, Dok?” tanya sanga ayah dengan rasa penasaran sambil menunjuk ruang UGD.

“Dia korban tabrak lari subuh tadi, yang tidak tertolong lagi nyawanya,” jelas Dokter.

Perasaan pasangan suami istri itupun lega. Lega bukan karena kematian orang yang jadi korban tabrak lari tadi. Melainkan lega karena Hasanah masih hidup dan kondisinya sudah membaik.

Setelah dokter itu memberitahu ruang perawatan Hasanah, dengan rasa bahagia pasangan suami-istri itu bergegas menuju ruangan tempat Hasanah berada.

“Hasanah yang nggak berhati-hati ketika menuruni tangga itu,” jawab Hasanah ketika orang tuanya menanyakan kenapa hingga dirinya bisa terjatuh.

“Ngomong-ngomong, dimana kak Defa,” tanya Hasanah.

Sementara itu, di salah satu sudut rumahsakit, Defa nampak tidak mampu lagi menahan isak tangisnya.

“Maafkan kakak, Dik,” katanya lirih sambil memukul-mukul dinding tembok rumah sakit. Semenjak itu Defa bertekad untuk menjadi anak baik. Anak yang patuh terhadap kedua orang tua dan sayang terhadap adiknya.