Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2008

Becerminlah Sepanjang Hari


Sopian Muhammad




Pada saat tertentu orang tidak pernah lupa becermin. Entah saat berpakaian, menyisir rambut, saat merapikan kumis bagi para prianya, memakai lipstick bagi para wanitanya, atau sekedar untuk mengetahui berapa jumlah jerawat yang tumbuh di wajahnya.

Lebih dari itu, dengan becermin banyak wanita atau pria merasa bangga karena melihat kecantikan atau ketampanan wajahnya atau keseksian dan kemachoan tubuhnya. Dengan becermin, tidak sedikit pula orang merasa kecewa saat memperhatikan wajahnya yang dianggap jelek maupun karena tubuhnya yang kelewat gemuk, terlalu kurus, atau kependekan.

Meskipun cermin bersikap “jujur” dalam hal tersebut, namun dibalik kejujurannya sesungguhnya cermin itu dapat “menipu” - lebih tepatnya cermin itu membuat orang sering “tertipu”. Mereka yang “tertipu” adalah yang merasa “bangga” atau “kecewa” hanya karena melihat dirinya seperti yang diproyeksikan cermin. Sebab cermin hanya mampu memperlihatkan diri seseorang secara fisik semata: kulitnya saja, wajahnya saja, tubuhnya sajat. Itu saja.

“Ketertipuan” tersebut semakin jelas manakala orang-orang yang merasa “bangga” atau “kecewa” dengan fisiknya tadi, menganggap bahwa “nilai dirinya” terletak dari fisiknya itu. Bagi yang “bangga” dengan fisiknya, mereka menganggap dirinya memiliki “nilai lebih”. Sedangkan bagi yang “kecewa” dengan fisiknya, merasa dirinya memiliki “nilai kurang”. Padahal “nilai” seorang manusia tentu bukan terletak pada fisiknya. Melainkan pada jiwa atau ruhaninya.

Becermin pada kaca memang terlalu dangkal dan takkan bisa memperlihatkan eksistensi atau hakikat keberadaan seorang manusia. Karena itulah manusia perlu becermin dibalik adanya berbagai fenomena alam karena Tuhan pun mengajarkan demikian.

Becermin Pada Malam
Kehadiran bulan dengan cahayanya dan bintang dengan kerlap kerlipnya, memang menjadikan malam terlihat “indah”. Namun, “keindahan sejati” sang malam, bukan terletak pada ada tidaknya bulan dan bintang dalam menghiasi diri sang malam. Melainkan “keindahan sejati” itu bermuara pada “penyadaran terhadap hakekat dirinya sebagai malam”. Sang malam, seakan menyadari, bahwa cahaya bulan dan kerlap kerlip bintang yang menghiasi – memperindah wajah malam, adalah fana bagi sang malam. Bahkan sesungguhnya, tanpa keberadaan sang malam, keindahan bulan dan bintang tidak terlihat.

Keberadaan cahaya bulan dan bintang adalah “kecantikan fana” bagi sang malam. “Kecantikan abadi” sang malam terletak pada penyadaran terhadap hakekat keberadaan dirinya tadi. Sebab sang malam pada dasarnya tidak membutuhkan apalagi harus merasa bangga dengan kehadiran bulan dan bintang. Kalaupun bulan dan bintang hadir, itu hanya karena kehendak alam yang harus ia terima. Sebaliknya, tanpa kehadiran bulan dan bintang, sang malam pun takkan kecewa. Semua itu sama sekali tidak mengurangi kesadaran sang malam terhadap hakekat keberadaan dirinya.

Seandainya manusia mampu becermin pada fenomena sang malam, maka akan tumbuh kesadaran bahwa penampilan atau kecantikan/ketampanan adalah fana belaka. Sedangkan “kecantikan/ketampanan abadi” terletak pada “penyadaran terhadap hakekat diri”.

Becermin Pada Embun
Malam boleh berganti menjadi pagi. Namun instrospeksi diri dengan becermin pada fenomena alam jangan pernah berhenti.

Sekalipun aktivitas manusia kembali terjadi di atmosfer sosiokultural yang sudah tercemar oleh pengaruh globalisasi yang seringkali mendistorsi “nilai” atau “kesejatian” manusianya, bukan berarti manusia terdispensasi dari kewajibannya untuk tetap menjaga “nilai” atau “kesejatian” dirinya.

Terkait dengan konteks ini, kiranya fenomena embun di pagi hari bisa menjadi renungan untuk “becermin” sebelum kita memulai berbagai aktivitas mengarungi hari. Sebab di pagi hari, dapat kita amati embun-embun yang tetap bening sekalipun mereka menggelayuti ujung daun rerumputan di pinggiran jalan yang sarat dengan berbagai debu dan kotoran. Begitulah sang embun. Dia tetap mampu menjaga “nilai” atau “kesejatiannya”: - kebeningan dan kesuciannya - walaupun lingkungannya dipenuhi berbagai debu atau kotoran tadi.

Becermin Pada Siang
Pagi berangsur-angsur menjadi siang. Embun boleh lenyap karenanya. Tetapi sepanjang hari, kita masih tetap bisa becermin pada alam. Becermin pada siang.
Siang menyadari, bahwa keberadaan dirinya karena kehadiran cahaya matahari. Sebab tanpa cahayanya, mustahil dirinya ada.

Siang terkadang cerah. Namun cerahnya siang bukanlah ekspresi yang menunjukkan bahwa siang begitu bangga menyambut sinar mentari. Siang juga terkadang mendung. Tetapi mendungnya siang bukan pula luapan dari ketidakpuasan siang dalam menyambut sinar mentari.

Siang memang tidak pantas untuk merasa bangga atau kecewa dengan kehadiran sang mentari. Siang menerima kehadiran mentari dengan apa adanya dan penuh keikhlasan. Karena siang menyadari benar, bahwa keberadaan dirinya sekali lagi karena kehadiran sang mentari. Seperti halnya Tuhan sebagai “Sang Mentari”-nya manusia.

Rabu, 19 November 2008

Kita dan Pelawak





Sopian Muhammad


Bukan pelawak namanya kalau dia tidak (bisa) melucu. Bahkan demi meningkatkan kelucuannya, ketika di panggung atau di layar hiburan, banyak di antara mereka yang rela berpenampilan-berpakaian sedemikian rupa walaupun terlihat konyol. Tetapi justru karena kekonyolan itulah yang seringkali mengundang para penonton tertawa.

Bagi pelawak, kerelaan untuk terlihat konyol dengan penampilan-pakaian yang dikenakannya saat melawak tidaklah cukup. Termasuk bagi sebagian pelawak yang menjadikan penampilan-berpakaian tertentu sebagai ciri khasnya. Sebab untuk mengundang kelucuan seringkali membutuhkan optimalisasi potensi dari dalam diri berupa kecerdasan emosi bahkan kecerdasan intelektual dari para pelawaknya.

Akan tetapi, ketika kita merasakan kelucuan saat mereka melawak, mungkin kita tidak melihat adanya "kecerdasan" dibalik pernyataan-pernyataan, banyolan, mimik, atau berbagai sikap yang mereka tunjukan ketika itu. Yang tampak, justru kekonyolan atau malah kepandiran-kepandiran. Namun, karena kekonyolan dan kepandiran yang sengaja mereka perlihatkan bertujuan untuk bisa mengundang kelucuan, disinilah adanya peran kecerdasan emosi bahkan kecerdasan intelektual tadi. Kiranya, berkat kecerdasan itulah, Rowan "Mr. Bean" Atkinson, misalnya, berhasil menjadi salah satu pelawak dunia yang sangat sukses.

Berbicara mengenai pelawak, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak pelawak. Baik secara perorangan, maupun secara grup. Tetapi, dalam tulisan ini saya lebih tertarik membahas "para pelawak yang menganggap dirinya bukan pelawak". Sebab bagi saya, hal ini jauh terasa lebih lucu. Kelucuannya, mereka tidak bermaksud melucu, namun tingkah polah mereka terlihat lucu. Lucu, kan?

"Pelawak" yang saya maksud adalah para pelawak yang wajah-wajah mereka tidak terlihat "lucu" seperti Jojon atau Mr. Bean. Pakaian yang mereka kenakan pun tidak sengaja dibuat lucu seperti badut atau berpakaian ala wanita seperti Kabul - yang lebih popular disebut "Tesy" - atau "Aming", misalnya. Bahkan para "pelawak" yang ini tampak berwibawa dan intelek dengan penampilannya itu. Mereka pun sama sekali tidak terkesan konyol, bodoh atau pandir. Tidak seperti pelawak (sungguhan) yang pada umumnya sengaja menunjukkan kesan konyol, bodoh atau pandir saat tampil.

Namun, jika dicermati secara mendalam, para "pelawak" yang tampak berwibawa dan intelek itu - malah seringkali tampil jaim (jaga image), mereka pun sesungguhnya terlihat "lucu" dengan - maaf - "kekonyolan" mereka, meskipun mereka sama sekali tidak merasa demikian.a Apalagi mereka menganggap/dianggap orang-orang intelek, pintar, bahkan terhormat. Tetapi, justru disitulah terlihat kelucuan mereka.

Konon, Ucup Kelik, Presiden I BBM (Baru Bisa Mimpi), termasuk pandai melucu dalam tema-tema yang berbau masalah politik atau menyindir (kebijakan) pemerintah. Namun, rasanya jauh lebih lucu dibandingkan sebagian politisi dan pejabat di Republik ini. Alasannya: pertama; karena mereka bisa "dijadikan bahan untuk melucu" oleh para pelawak itu. Kan, lucu, sikap atau pernyataan para politisi yang terkenal pintar atau intelek itu dijadikan bahan lawakan. Sama lucunya, dengan sikap atau pernyataan para pejabat yang sok pintar dan berwibawa namun dijadikan bahan lawakan. Kalau fenomena keberadaan para politisi dan pejabat itu tidak lucu, ngapain juga Ucup Kelik, misalnya, mengambil bahan lawakan dari mereka. Kira-kira, kan logikanya seperti itu.

Indikasi adanya kelucuan dari sikap atau pernyataan politisi dan para pejabatnya, yaitu dengan adanya istilah "dagelan politik". Munculnya istilah tersebut karena adanya kelucuan dari para politisi atau pejabatnya tadi. Lucunya lagi, apabila orang-orang yang melontarkan istilah "dagelan politik" itu, ternyata tanpa disadarinya juga termasuk dalam "pemain" dagelan tersebut.

"Dagelan politik" merupakan "lawakan intelektual". Kelucuannya dapat dirasakan dengan pemahaman intelektual pula. Misalnya, mereka yang sering menggembar-gemborkan demokrasi namun ternyata diam-diam "berkonspirasi" melakukan cara-cara kotor demi mencapai suatu ambisi. Mereka yang berbicara tentang pemberantasan korupsi dan kolusi, ternyata diam-diam malah sibuk memperkaya diri dengan jalan kolusi. Mereka, para aparatur pemerintah dan penegak hukum yang seharusnya mengayomi masyarakat, malah memeras, bahkan menindas. Sementara itu, tokoh-tokoh yang seringkali bicara atas nama Tuhan, malah sibuk mendekatkan diri dengan kekuasaan. Lucu, kan? Awas, ya, kalau tidak lucu!

Kita memang tidak perlu tertawa untuk merasakan kelucuan dari tingkah polah para pelawak macam ini, meski lawakan mereka "lebih lucu" dari lawakan para pelawak pada umumnya. Sebab, kelucuan dari para pelawak model begitu, sesungguhnya adalah keironian. Suatu paradoksisasi dari aturan dan nilai-nilai. Jadi, jika lawakan mereka terlihat "lebih lucu", sesungguhnya karena tinjauan moralitas, norma-norma, religiusitas. Sedangkan kelucuan dari penampilan orang-orang yang profesinya memang pelawak, karena tinjauannya adalah hiburan (entertaint).

Meskipun hal yang ironi tadi tidak mesti mengundang tawa, namun jika mencermati lebih jauh tingkah polah para "pelawak elite" ini, sebenarnya bisa menimbulkan gelak tawa. Coba saja perhatikan pada saat menjelang Pemilu legislatif dan pemilihan pasangan presiden (Pilpres) - wakil presiden (Pilwapres). Para calon anggota legislatif (caleg), konon kabarnya ada saja yang menemui paranormal atau mbah dukun agar mereka terpilih menjadi anggota DPR/DPRD. Di antara mereka pun banyak yang tampil seperti orang-orang suci dan tiba-tiba menjadi dermawan. Bahkan, esok pagi menjelang hari pencoblosan suara (Pemilu), di antara mereka sibuk membagi-bagikan uang dan sembako. Istilahnya: "serangan fajar".

Menjelang pilpres dan pilwapres, para kandidatnya pun tampil lucu dalam spanduk ataupun gambar-gambar di media luar ruang yang di pasang. Pasalnya, slogan atau kalimat-kalimat kampanye yang tertulis, ada saja yang mencerminkan kekonyolan bahkan - sekali lagi maaf -kepandiran. Lucunya lagi, kalimat tersebut dapat langsung membuat seseorang tertawa, tanpa perlu menelaahnya secara mendalam. Contohnya, kalimat "Tegakkan nilai-nilai Islam" seperti yang terpampang dalam suatu spanduk partai tertentu, tetapi kader-kadernya di legislatif dan di pemerintahan tidak sedikit yang terlibat kasus korupsi atau pelanggaran syar'i lainnya.

"Pelawak" sebenarnya ada di mana-mana. Termasuk mungkin juga di lingkungan sekitar kita. Atau barangkali, kita pun sesungguhnya termasuk dalam kategori "pelawak" pada konteks ini. Cobalah kita berkaca dalam cermin besar yang berbingkai moralitas - religiusitas. Perhatikan mengenai diri kita dengan secermat mungkin. Dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar. Jika kita mampu melakukannya, kita pasti akan merasakan adanya kelucuan.

Seandainya kita sudah berhasil melihat berbagai "kelucuan" dari diri kita selama ini, saya kira inilah modal dasar bagi kita untuk segera menginsafinya untuk tidak lagi menjadi "pelawak." Sebab kita tentunya tidak ingin menjadi bahan "tertawaan". "Tertawaan" dalam pandangan moralitas-religiusitas. tertawaan yang menyakitkan hati bagi orang yang berhati.

Kita dan Pelacur

Sopian Muhammad


Dalam pemahaman umum, yang dimaksud dengan pelacur adalah perempuan yang "menjual kehormatan dirinya" (baca: tubuhnya) demi uang. Dalam pandangan masyarakat - termasuk kita barangkali - para pelacur dianggap sebagai manusia kotor dan najis. Dengan demikian, mereka seolah dianggap sudah tidak lagi memiliki "kehormatan" diri sebagai manusia.

Berdasarkan pemahaman dan pandangan mengenai sebutan pelacur ini, terasa ada ketidakadilan: pertama; istilah "pelacur" ditinjau dari segi pengertian. Secara etimologi, "pelacur" berasal dari kata "pe" yang berarti "orang" dan "lacur" yang diartikan sebagai "perbuatan tidak baik" (lihat: KUBI 1985 : 548). Jadi, "pelacur" berarti "orang yang melakukan perbuatan tidak baik".

Dari pengertian ini, setiap orang yang "berbuat tidak baik" kiranya pantas disebut pelacur. Tidak terkecuali saya dan Anda. Namun kenyataannya, hanya perempuan yang "menjual tubuhnya" yang diidentikkan sebagai "pelacur". Sedangkan manusia yang melakukan "perbuatan tidak baik" lainnya luput dari sebutan ini. Termasuk mereka yang "menjual kebenaran" (kejujuran dan keadilan) yang merupakan nilai-nilai dasar dari kehormatan manusia.

Inti masalah ketidakadilan dari pengertian ini adalah, karena sebutan "pelacur" sudah terlanjur diperuntukkan bagi perempuan yang menjual tubuhnya (seks) demi uang. Selain itu perbuatan ini seakan dianggap paling buruk dan hina dibandingkan dengan "perbuatan tidak baik" lainnya seperti korupsi, kolusi, manipulasi, serta "sisi-sisi" lain yang mengeksploitasi ambisi. Padahal konon, katanya, banyak diantara para perempuan yang disebut pelacur itu, "terpaksa" menjual tubuhnya Sedangkan koruptor, kolutor, manipulator seringkali sengaja melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, bahkan merasa bangga dengan berbagai perilaku kotornya.

Berdasarkan pemahaman ini, bukankah sebutan "pelacur" terasa semakin tidak adil jika hanya ditujukan pada para perempuan (PSK) yang menjual tubuhnya demi uang?

Kedua; "pelacur" ditinjau dari segi "moralitas". Para perempuan yang "menjual tubuhnya demi uang" sering dikatakan sebagai wanita yang sudah "hilang kehormatannya." Padahal, para koruptor, kolutor, manipulator, dan perilaku "kotor" lainnya yang jelas-jelas "menjual kebenaran" (kejujuran-keadilan) pada dasarnya juga "menjual kehormatan". Dengan demikian - kalau mau fair - mereka pun sebenarnya bisa dianggap telah "hilang kehormatannya".

Ironisnya, di antara mereka yang melakukan berbagai perilaku "kotor" tersebut malah seringkali (merasa/dianggap) terpandang mulia dan terhormat di mata masyarakat. Sedangkan mereka, melakukannya tidak hanya demi uang, tetapi juga demi jabatan atau kedudukan (kekuasaan). Suatu perbuatan yang dimotivasi bukan karena "keterpaksaan" melainkan karena "keserakahan". Jadi, sekali lagi, bukankah sesungguhnya mereka pun pantas disebut sebagai "pelacur" dan dianggap sebagai manusia yang telah "hilang kehormatan" dirinya?

Pada kesempatan ini, ijinkan saya mengilustrasikan keluh kesah imajiner seorang perempuan yang merasa terpaksa menjadi pelacur. Ia protes sekaligus menggugat atas ketidakadilan yang selama ini dirasakannya - walaupun dia menyadari, keterpaksaannya tetap tidak mendispensasikan dirinya dari sebutan "si pelacur". Secara moral, tidak pula memberikan "dispensasi" terhadap perilakunya itu.

Si perempuan itu tampaknya juga menyadari betul, bahwa orang-orang yang pantas pula dianggap pelacur, sesungguhnya bukan hanya dirinya atau teman-teman seprofesinya. Melainkan siapapun dan dari status sosial apapun, mereka bisa saja disebut pelacur dan layak dianggap orang yang telah hilang kehormatan dirinya. Apalagi bagi orang-orang yang hidupnya berorientasi demi kekayaan dan kekuasaan semacam tadi.

Katanya:

"Bukankah perbuatan-perbuatan tersebut jelas-jelas telah ‘menjual kebenaran: kejujuran dan keadilan' yang merupakan nilai-nilai dasar dari kehormatan?"

"Bukankah mereka yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai ‘kehormatan' dalam sikap dan perilakunya pantas dianggap sebagai orang yang telah "hilang kehormatan" dirinya?"

"Bukankah dengan demikian mereka juga bisa dianggap pelacur?"

Seperti itulah luapan ketidakadilan yang dirasakan si perempuan pelacur tadi.

***

Kalau kita melihat realitas sosial yang lebih luas, ketidakadilan seperti itu ternyata memunculkan ketidakadilan lainnya. Sebab para penegak hukum pun kemudian hanya gencar "menertibkan" para pelacur (PSK) tadi. Sementara orang-orang yang mengeksploitasi nafsu ambisi dan keserakahan (terutama) yang berada di kursi pemerintahan, seringkali tidak tersentuh. Padahal, berdasarkan pemahaman di atas, mereka juga adalah para pelacur.

Mungkinkah hal ini terjadi karena para penegak hukum pun sudah banyak yang menjadi "pelacur" seperti mereka ?

Akibat dari "kepelacuran" para pejabat dan penegak hukum, negara ini kemudian mengalami krisis ekonomi dan kepercayaan. Di samping itu, krisis ini pada gilirannya juga menyebabkan banyak orang untuk melacurkan diri. Baik melacur dengan cara "menjual nilai-nilai kebenaran" (kejujuran, keadilan), maupun melacur dengan cara "menjual tubuhnya". Sementara para pelacur yang menjual hukum maupun jabatan-kedudukan, nampaknya banyak yang tidak menyadari, bahwa sikap dan perilaku kotor mereka seolah merupakan suatu rangkaian kata-kata yang bermakna: "Mari sama-sama melacurkan diri."

Selain itu, kalau berbicara, biasanya para pelacur tersebut berbicara layaknya orang-orang suci dan terhormat: bicara tentang kebenaran (kejujuran dan keadilan). Mereka seperti tidak memiliki rasa malu dengan menyebut para perempuan pelacur (PSK) sebagai sampah kotor yang hina dina, sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Padahal mereka juga - semoga kita tidak termasuk - sama kotornya dalam pandangan moral sehingga layak disebut sampah masyarakat-negara yang harus segera dienyahkan.

Kalau berbicara tentang kejujuran, barangkali, seorang perempuan pelacur (PSK) bisa lebih jujur mengenai dirinya.

Kejujuran dari seorang pelacur karena dia menyadari dan mengakui kepelacurannya, serta sadar dengan kehinadinaan dirinya. Keadilan para pelacur, karena mereka pun rela menerima cercaan dari masyarakat. Sebab, istilah "pelacur" yang sudah melekat pada diri mereka, secara moral kultural adalah identifikasi dari manusia hina yang layak mendapat cercaan.

Sedangkan para pelacur yang menjual kebenaran (kejujuran, keadilan) namun merasa suci dan terhormat dengan kedudukannya, dengan tingginya status sosial yang disandangnya, rasanya tidak akan sejujur atau seadil para perempuan pelacur dalam menilai dirinya di hadapan masyarakat.

Mereka, para pelaku korupsi, kolusi, manipulasi yang cenderung mengekploitasi ambisi dengan memanfaatkan kedudukan dan tingginya status sosialnya itu, biasanya berupaya untuk tidak mengakui kekoruptorannya, kekolutorannya, kemanipulatorannya dan kekotoran lainnya. Apalagi untuk mengakui kepelacurannya dan rela disebut si pelacur.

Seandainya para perempuan pelacur (PSK) tadi seringkali terlihat tertawa-tawa, menurut perempuan pelacur tadi, sesungguhnya seringkali di hatinya merasa pilu, sedih, dengan hidup yang dialaminya. Sedangkan tertawanya koruptor, kolutor, manipulator, didasari rasa senang dan kepuasan hati meskipun berada di atas penderitaan dan ketidakpuasan orang banyak.

Seandainya para perempuan pelacur harus ditertibkan, sudah semestinya para pelacur yang berada dibalik kedudukan dan terpandangnya status sosial (termasuk di kursi pemerintahan) yang lebih dahulu ditertibkan. Ibarat membersihkan rumah, maka bagian ataslah yang seharusnya dibersihkan terlebih dahulu.

Kenyataannya, para perempuan pelacur harus "puas" dengan ketidakpuasannya. Sebab masyarakat pun umumnya sudah terlanjur menganggap mereka sebagai manusia hina, kotor, dan menjijikan. Perbuatan mereka seakan dianggap lebih buruk dengan perbuatan lain: menjual kebenaran (kejujuran, keadilan) termasuk yang dilakukan para pejabat atau penegak hukumnya. Padahal, berdasarkan pengertian filosofis dari makna pelacur tadi, bisa-bisa, kita pun termasuk dalam kategori yang disebut pelacur - walaupun pelacur kelas rendahan, misalnya. Namun, pelacur adalah pelacur. Apapun tingkatan atau kelasnya, sama-sama hinanya dalam pandangan nilai-nilai luhur kehormatan diri. Karena itulah, alangkah bijaksananya jika kita senantiasa instrospeksi dan berhati-hati agar sikap dan perilaku kita tidak menjurus pada tindakan "melacurkan diri."

Selasa, 29 Juli 2008

Kita dan Pelawak

Sopian Muhammad


Bukan pelawak namanya kalau ia tidak (bisa) melucu. Bahkan demi meningkatkan kelucuannya, ketika di panggung atau di layar hiburan, banyak diantara mereka yang rela berpenampilan-berpakaian sedemikian rupa walaupun terlihat konyol. Tetapi justru karena kekonyolan itulah yang seringkali mengundang para penonton tertawa.

Bagi pelawak, kerelaan untuk terlihat konyol dengan penampilan-pakaian yang dikenakannya saat melawak tidaklah cukup. Termasuk bagi sebagian pelawak yang menjadikan penampilan-berpakaian tertentu sebagai ciri khasnya. Sebab untuk mengundang kelucuan memang membutuhkan potensi dari dalam diri berupa kecerdasan emosi bahkan kecerdasan intelektual dari para pelawaknya.

Ketika kita merasakan kelucuan saat mereka melawak, kita memang tidak melihat adanya “kecerdasan” dengan pernyataan-pernyataan atau berbagai sikap dan perilaku yang mereka tunjukan ketika itu. Yang nampak justru kekonyolan bahkan kebodohan-kebodohan. Tapi karena kekonyolan dan kebodohan yang sengaja mereka perlihatkan bertujuan untuk bisa mengundang kelucuan, disinilah peran kecerdasan emosi bahkan kecerdasan intelektual tadi. Kiranya, karena memiliki bekal kecerdasan itulah Rowan “Mr. Bean” Atkinson berhasil menjadi salah satu pelawak dunia yang sangat sukses.

Berbicara mengenai pelawak, Indonesia merupakan negara yang memang memiliki banyak pelawak. Baik secara perorangan, maupun secara grup. Tetapi, dalam tulisan ini saya lebih tertarik membahas “para pelawak yang menganggap dirinya bukan pelawak”. Sebab bagi saya hal ini jauh terasa lebih lucu. Kelucuannya, mereka tidak bermaksud melucu namun tingkah polah mereka terlihat lucu.

“Pelawak” yang saya maksud adalah para pelawak yang wajah-wajah mereka tidak terlihat lucu seperti Jojon atau Mr Bean. Pakaian yang mereka kenakan pun tidak sengaja dibuat lucu seperti badut atau berpakaian ala wanita seperti “Tesy” atau “Aming”. Bahkan para “pelawak” yang ini tampak berwibawa dan intelek dengan penampilannya itu. Sehingga mereka sama sekali tidak terkesan konyol, bodoh atau pandir. Tidak seperti pelawak (sungguhan) yang pada umumnya yang sengaja menampilkan kesan konyol, bodoh atau pandir.

Namun jika dicermati secara mendalam, para “pelawak” ini, mereka pun sesungguhnya terlihat lucu dengan – maaf - kekonyolan, kebodohan atau kepandiran mereka, meskipun mereka merasa tidak merasa bersikap demikian. Sebab mereka adalah orang-orang intelek, pintar, bahkan terhormat. Tetapi, justru disitulah terlihat kelucuan mereka.

Konon, Ucup Kelik, Presiden BBM termasuk pandai melucu dalam tema-tema yang berbau masalah politik atau menyindir (kebijakan) pemerintah. Namun, rasanya jauh lebih lucu para politisi dan pejabatnya. Alasannya: pertama; karena mereka bisa dijadikan bahan untuk melucu oleh para pelawak itu. Kan, lucu, sikap atau pernyataan para politisi yang terkenal pintar atau intelek itu dijadikan bahan lawakan. Sama lucunya, dengan sikap atau pernyataan para pejabat yang sok pintar dan berwibawa namun dijadikan bahan lawakan. Kalau fenomena keberadaan para politisi dan pejabat itu tidak lucu, ngapain juga Ucup Kelik, misalnya, mengambil bahan lawakan dari mereka. Kira-kira, kan logikanya seperti itu.

Indikasi adanya kelucuan dari sikap atau pernyataan politisi dan para pejabatnya, yaitu dengan adanya istilah “dagelan politik”. Munculnya istilah tersebut karena adanya kelucuan dari para politisi atau pejabatnya tadi. Lucunya lagi, apabila orang-orang yang melontarkan istilah “dagelan politik” itu, ternyata tanpa disadarinya juga termasuk dalam “pemain” dagelan tersebut.

“Dagelan politik” merupakan “lawakan intelektual”. Kelucuannya dapat dirasakan dengan pemahaman intelektual pula. Misalnya, mereka yang sering menggembar-gemborkan demokrasi namun ternyata diam-diam “berkonspirasi” demi mencapai suatu ambisi. Mereka yang berbicara tentang pemberantasan korupsi dan kolusi, ternyata malah sibuk memperkaya diri dengan jalan kolusi. Mereka yang seharusnya mengayomi masyarakat, malah memeras, bahkan menindas. Sementara itu, tokoh-tokoh yang seringkali bicara atas nama Tuhan, malah sibuk mendekatkan diri dengan kekuasaan. Lucu, kan?

Kita memang tidak perlu tertawa untuk merasakan kelucuan dari tingkah polah para pelawak macam ini, meski lawakan mereka “lebih lucu” dari lawakan para pelawak pada umumnya. Sebab, kelucuan dari para pelawak model begitu, sesungguhnya adalah keironian. Suatu paradoksisasi dari aturan dan nilai-nilai. Jadi, jika lawakan mereka terlihat “lebih lucu”, sesungguhnya karena tinjauan moralitas, norma-norma, religiusitas. Sedangkan kelucuan dari penampilan orang-orang yang profesinya memang pelawak, karena tinjauannya adalah hiburan (entertainment).

Meskipun hal yang ironi tadi tidak mesti mengundang tawa, namun jika mencermati lebih jauh tingkah polah para pelawak elite ini, sebenarnya bisa menimbulkan gelak tawa. Coba saja perhatikan pada saat menjelang Pemilu legislatif dan pemilihan pasangan presiden (pilpres) - wakil presiden (pilwapres). Para calon anggota legislatif (caleg), konon kabarnya banyak yang menemui paranormal atau mbah dukun agar mereka terpilih menjadi anggota DPR/DPRD. Diantara mereka pun banyak yang tampil seperti orang-orang suci dan tiba-tiba menjadi dermawan. Bahkan esok menjelang hari pencoblosan suara (Pemilu), diantara mereka sibuk membagi-bagikan uang dan sembako.

Menjelang pilpres dan pilwapres, para kandidatnya pun tampil lucu dalam spanduk ataupun gambar-gambar di media luar ruang yang di pasang. Pasalnya, slogan atau kalimat-kalimat kampanye yang tertulis, mencerminkan kekonyolan dan kebodohan. Lucunya lagi, kalimat tersebut dapat langsung membuat seseorang tertawa, tanpa perlu menelaahnya secara mendalam.

“Pelawak” sebenarnya ada di mana-mana. Termasuk mungkin juga di lingkungan sekitar kita. Atau barangkali, kita pun sesungguhnya termasuk dalam kategori “pelawak” pada konteks ini. Cobalah kita berkaca dalam cermin besar yang berbingkai moralitas - religiusitas. Perhatikan mengenai diri kita dengan secermat mungkin. Dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar. Jika kita mampu melakukannya, kita pasti akan merasakan adanya kelucuan.

Seandainya ternyata kita masih belum menemukan kelucuan, itu karena kita masih menjadi pelawak. Sebab biasanya, pelawak tidak menunjukan rasa kelucuannya dengan sikap atau perilakunya sendiri ketika berperan sebagai pelawak.

Seandainya kita sudah berhasil melihat berbagai “kelucuan” dari diri kita selama ini, saya kira inilah modal dasar bagi kita untuk tidak lagi menjadi “pelawak.” Sebab kita tentunya tidak ingin menjadi bahan “tertawaan”. “Tertawaan” dalam pandangan moralitas-religiusitas.

Becermin Pada Alam

Sopian Muhammad


Pada saat tertentu orang tidak pernah lupa becermin. Entah saat berpakaian, menyisir rambut, saat merapikan kumis bagi para prianya, memakai lipstick bagi para wanitanya, atau sekedar untuk mengetahui berapa jumlah jerawat yang tumbuh di wajah mereka. Begitulah cermin.

Lebih dari itu, dengan becermin banyak wanita atau pria merasa bangga karena melihat wajahnya yang cantik atau tampan, serta tubuhnya yang terlihat seksi atau macho. Dengan becermin, tidak sedikit pula orang merasa kecewa saat memperhatikan wajahnya yang dianggap jelek maupun karena tubuhnya yang kelewat gemuk, terlalu kurus, atau kependekan.

Meskipun cermin bersikap “jujur” dalam hal tersebut, namun dibalik kejujurannya sesungguhnya cermin itu dapat “menipu” - lebih tepatnya cermin itu membuat orang sering “tertipu”. Mereka yang “tertipu” adalah yang merasa “bangga” atau “kecewa” hanya karena melihat dirinya seperti yang diproyeksikan cermin. Sebab cermin hanya mampu memperlihatkan diri seseorang secara fisik semata. Kulitnya saja. Begitulah cermin.

“Ketertipuan” tersebut semakin jelas manakala orang-orang yang merasa “bangga” atau “kecewa” dengan fisiknya tadi, menganggap bahwa “nilai dirinya” terletak dari fisiknya itu. Bagi yang “bangga” dengan fisiknya, mereka menganggap dirinya memiliki “nilai lebih”. Sedangkan bagi yang “kecewa” dengan fisiknya, merasa dirinya memiliki “nilai kurang”. Padahal “nilai” seorang manusia tentu bukan terletak pada fisiknya. Melainkan pada jiwa atau ruhaninya.

Becermin pada kaca memang terlalu dangkal dan takkan bisa memperlihatkan eksistensi atau hakikat keberadaan seorang manusia. Karena itulah manusia perlu becermin pada berbagai fenomena alam karena Tuhan pun mengajarkan demikian.

Becermin pada malam
Kehadiran bulan dengan cahayanya dan bintang dengan kerlap kerlipnya, memang menjadikan malam terlihat “indah”. Namun, “keindahan sejati” sang malam, bukan terletak pada ada tidaknya bulan dan bintang dalam menghiasi diri sang malam. Melainkan “keindahan sejati” itu bermuara pada “penyadaran terhadap hakekat dirinya sebagai malam”. Sang malam seakan menyadari, bahwa cahaya bulan dan kerlap kerlip bintang yang menghiasi – memperindah wajah malam, adalah fana bagi sang malam. Bahkan sesungguhnya, tanpa keberadaan sang malam, keindahan bulan dan bintang tidak terlihat.

Keberadaan cahaya bulan dan bintang adalah “kecantikan fana” bagi sang malam. “Kecantikan abadi” sang malam terletak pada penyadaran terhadap hakekat keberadaan dirinya tadi. Sebab sang malam pada dasarnya tidak membutuhkan apalagi harus merasa bangga dengan kehadiran bulan dan bintang. Kalaupun bulan dan bintang hadir, itu hanya karena kehendak alam yang harus ia terima. Sebaliknya, tanpa kehadiran bulan dan bintang, sang malam pun takkan kecewa. Semua itu sama sekali tidak mengurangi kesadaran sang malam terhadap hakekat keberadaan dirinya.

Seandainya manusia mampu becermin pada fenomena sang malam, maka akan tumbuh kesadaran bahwa penampilan atau kecantikan – ketampanan adalah fana belaka. Sedangkan “kecantikan – ketampanan abadi” terletak pada “penyadaran terhadap hakekat diri”.

Becermin pada embun
Malam boleh berganti menjadi pagi. Namun instrospeksi diri dengan becermin pada alam jangan pernah berhenti.

Sekalipun aktivitas manusia kembali terjadi di atmosfer sosial kultural yang sudah tercemar oleh pengaruh globalisasi yang seringkali mendistorsi “nilai” atau “kesejatian” manusianya, bukan berarti manusia terdispensasi dari kewajibannya untuk tetap menjaga “nilai” atau “kesejatian” dirinya.

Terkait dengan konteks ini, kiranya fenomena embun di pagi hari bisa menjadi renungan untuk “becermin” sebelum kita memulai berbagai aktivitas. Sebab di pagi hari dapat kita amati embun-embun yang tetap bening sekalipun mereka menggelayuti ujung daun rerumputan di pinggiran jalan yang sarat dengan berbagai debu dan kotoran. Begitulah sang embun. Dia tetap mampu menjaga “nilai” atau “kesejatiannya” : - kebeningan dan kesuciannya - walaupun lingkungannya dipenuhi berbagai debu atau kotoran tadi.

Becermin pada siang
Pagi berangsur-angsur menjadi siang. Embun boleh lenyap karenanya. Tetapi sepanjang hari, kita masih tetap bisa becermin pada alam. Becermin pada siang.
Siang menyadari, bahwa keberadaan dirinya karena kehadiran cahaya matahari. Sebab tanpa cahayanya, mustahil dirinya ada.

Siang terkadang cerah. Namun cerahnya siang bukanlah ekspresi yang menunjukkan bahwa siang begitu bangga menyambut sinar mentari. Siang juga terkadang mendung. Tetapi mendungnya siang bukan pula luapan dari ketidakpuasan siang dalam menyambut sinar mentari.

Siang memang tidak pantas untuk merasa bangga atau kecewa dengan kehadiran sang mentari. Siang menerima kehadiran mentari dengan apa adanya dan penuh keikhlasan. Karena siang menyadari benar, bahwa keberadaan dirinya sekali lagi karena kehadiran sang mentari. Seperti juga manusia....